Flamboyant Berguguran

Flamboyant Berguguran

  • WpView
    Membaca 165
  • WpVote
    Vote 7
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadDewasaLengkap Jum, Jul 1, 2016
Saya adalah penggemar film romance klasik tahun 70-an. Gak heran setiap tulisan romance yang saya tulis kadang mirip mirip cerita jaman baheula, tentunya dengan penyesuaian jaman dengan masa yang sekarang. Dan kali ini, saya akan posting sebuah novelet yang pernah saya buat dua tahun yang lalu. Dan ini benar-benar terinsipirasi dari film-film jadul indonesia yang prnah saya tonton yang bagi saya terasa everlasting banget dah heheh... bersetting tahun 1974 dengan nuansa yang terasa oldies banget. Karena ini novelet, saya bakal bagi postingan dalam 3 chapter aja. gak banyak-banyak kok. Semoga berkenan ya, teman teman :)
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Batavia 1920
  • ngger adalah vandyku
  • Mr. D [ Kisah Nyata KKN ]
  • Match Unmatch
  • Thats my Love
  • Dasar Dosen Gila || END
  • kopiku
  • IDOL KU TERNYATA JODOH KU [RAFAEL STRUICK] *{END}*
  • Prema Sutram [Completed✔️]
  • Butterfly Effect

TAMAT (PART MASIH LENGKAP)‼️ /// Luna Ayunda\\\ Saat itu aku merasa sangat bahagia. Mungkin aku adalah satu dari seribu orang paling beruntung di bumi-karena mengalami sesuatu yang paling ajaib sepanjang hidupku. Aku bertemu dengan seorang seniman jalanan hebat di kota Batavia. Lebih ajaibnya lagi, pertemuan itu terjadi pada tahun 1920. Aneh? Bukan. Ini ajaib. Semua bermula dari sekeping koin yang diberikan seorang kakek entah siapa, yang kutemui di kereta. Tidak masuk akal, memang. Tapi nyata. Koin itu seperti tiket lintas waktu-membawaku ke masa jauh sebelum aku dilahirkan. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Kehidupan di masa itu. Keramahan orang-orang pribumi Batavia. Ramainya kota. Megahnya bangunan-bangunan tua. Karya seni yang memikat-dan dia, sosok yang berbeda dari laki-laki mana pun yang pernah kutemui. Aku bersiap melanjutkan mengetik, meregangkan jari-jari yang mulai lelah, padahal baru tiga puluh menit berlalu. "Luna!" Suara seorang pria menghentikan aktivitasku. Dialah yang kutunggu sejak setengah jam lalu. "Malik." ///

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan