Pengalaman Pakai Softlens 2

Pengalaman Pakai Softlens 2

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Wed, Jun 22, 2016
Tepat satu minggu setelah membeli softlens yaitu pada hari selasa (tanggalnya lupa), aku memutuskan untuk langsung memakai softlens, setelah aku pakai ternyata rasanya enak juga mata lebih awas serta tersedia dengan banyak pilihan warna, tetapi pada waktu itu aku masih mengalami kesusahan memakai softlens, dengan senang hati temanku nana membantu memasangkan softlens,tepat pada hari jumat aku melakukan sebuah kecerobo karena pada waktu itu aku lupa belum memakai tetes mata, jadinya mataku perih dan pandanganku buram, setelah mengetahui kasalahanku akhirnya setiap mau memakai softlens tidak lupa juga aku meneteskan tetes mata. Setelah memakai softlens beberapa lama akhirnya aku diketahui oleh adikku, dilanjutkan orangtua dan teman-teman banyak yang memarahi tetapi ada juga yang memuji, setelah mengalami kejadian, serta mencari bahaya memakai softlens dari internet tersebut aku mulai jarang pakai softlens, tetapi kalau terpaksa ya aku memakainya. Sekian cerita dari saya
All Rights Reserved
#141
koko
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Kecil dengan 5 Teman Bermain Tak Kasat Mata
  • INDIGO
  • Under The Rain
  • Ketos Park Jisung & Me
  • Make (me) Up ! ; seulrene ✔
  • cinta yang tulus?
  • Broken Silence [SEULRENE]
  • Sadness
  • Complete (END)

Saat aku masih kecil-sekitar usia tiga tahun-aku belum mengerti bedanya mana yang nyata dan mana yang tidak. Dunia terasa seperti tempat bermain yang luas, dan aku menghabiskan banyak waktu di rumah karena musim hujan. Suatu hari, aku bertemu seorang anak kecil seumuranku berdiri di depan rumah. Kami bermain, tertawa, seperti teman biasa. karena aku masih kecil secara otomatis tidak mengetahui teman ku ini ternyata sesosok yang tak kasat mata dan anehnya hanya aku yang bisa melihat 'dia', teman pertama ku. Yang paling aku ingat adalah sosok ular besar yang muncul di dekat rumah. Bukannya takut, aku malah mendekatinya dan mengusap sisiknya. Aku bahkan sempat bicara dengannya-dan dia menjawab dengan lembut, "Ojo wedi ya nduk cah ayu. Aku uduk kewan seng jahat. Aku mung kepengen dulinan karo putuku seng ayu iki." Aku tidak tahu waktu itu kalau semua itu tidak biasa. Aku hanya seorang gadis kecil yang merasa punya teman bermain. Tapi semakin aku tumbuh, semakin aku sadar... mereka tak pernah benar-benar pergi. Inilah kisah tentang tempat aku tumbuh. Tentang lima teman yang tak kasat mata. Tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika-tapi nyata bagiku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines