Kutukan Puteri Kristal

Kutukan Puteri Kristal

  • WpView
    LECTURAS 7,538
  • WpVote
    Votos 183
  • WpPart
    Partes 16
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, feb 22, 2020
WpInfo
Ficción
Fantasía
- Tentang Puteri Lilian yang melakukan segala cara demi mendapatkan cintanya: Pangeran Albert. Keajaiban yang ditempuhnya menimbulkan kutukan yang akan merubah tubuhnya. Ia kemudian terlibat berbagai petualangan bersama Patih Effond. Mulai dari berburu Kira, ular putih yang teramat besar, hingga menyelesaikan misi pencarian tiga penyihir. Apakah akhirnya Puteri Lilian akan mendapatkan cinta Pangeran Albert? Apakah Puteri Lilian akan berakhir menjadi batu ataupun kristal? Silahkan menemukan jawabannya dalam cerita ini :) - Hallo semuanya. Panggil saja saya Narth. Ini adalah dongeng fantasy yang sudah saya tulis sejak 2013 silam namun tak kunjung selesai juga. Semoga dengan saya upload cerita ini dan mendengar kritik dari kalian, saya dapat melanjutkan ceritanya. Enjoy it! ^^
Todos los derechos reservados
#88
istana
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Princess of Perseus
  • Crystallium ✔
  • ALE NIGRUM : The Rise of The Cursed King
  • The Sleeping Alpha
  • The Great Kingdom Of Maurin
  • Beauty and The Curse
  • The Eternal Country (3) : Curse from the Past (√)
  • The Miracle Of Crystals

Aula Aetherium bergema oleh napas lega, panji-panji tua menggantung seperti saksi bisu di atas sosok berlutut yang namanya telah berlari mendahului kebenaran, dan aku berdiri di antara mereka, menyaksikan para pemegang kuasa dan mereka yang percaya mengukuhkan keyakinan menjadi perayaan, seolah ketakutan dapat diakhiri dengan memenggal seorang manusia. Ketika algojo mengangkat pedangnya dan sebuah suara berbisik, "Dialah yang akan mengakhiri dunia ini," kata-kata itu jatuh ke dadaku bukan sebagai keadilan, melainkan sebagai restu untuk berhenti bertanya. Aku telah membaca lembar demi lembar masa lalu, menautkan jejak yang terserak, mengikuti kisah itu hingga semuanya menunjuk ke titik ini, namun pada saat sorak membumbung dan bilah pedang tertahan di udara, yang kurasakan hanyalah sunyi yang ganjil, kehampaan yang dingin, seakan kebenaran telah melintas pergi sementara kami sibuk menyepakati wujudnya. Lelaki itu tak menyerupai akhir, ia lebih tampak seperti jawaban yang disusun dengan rapi agar tak ada lagi pertanyaan yang perlu diselamatkan, dan ketika kerumunan menuntut darah, aku terlambat menyadari bahwa Aetheria masih runtuh di bawah keyakinan kami sendiri. Sebab apa pun yang benar-benar mematahkan dunia ini tak pernah berlutut di hadapan kami. Ia berdiri tanpa nama di antara sorak-sorai, tenang, tak terlihat, dan menang. Dan baru kelak kami mengerti, hari itu bukanlah awal keselamatan, melainkan saat ketika sesuatu yang jauh lebih sunyi akhirnya dibiarkan bebas.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido