Bi(ola)

Bi(ola)

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 17, 2016
Aku suka musik, aku suka bermain musik, aku suka semua tentang musik. Musik adalah hidupku. Aku dibesarkan dari keluarga yang juga mencintai musik. Papa, dia adalah seorang komposer musik yang sudah menggelar banyak konser. Mama, dia adalah seorang pianis yang handal, dan terkadang kalau papa ingin mengadakan konser, mama selalu diikut sertakan. Minatku adalah di biola. Kadang, saat aku sedang stress dengan tugas sekolahku, aku menghilangkannya dengan bermain biola. Saat bermain biola aku merasa tenang, setiap nada yang di keluarkan membuatku merasa damai. Suatu saat nanti, aku ingin menjadi pemain biola yang professional. Membuat laguku sendiri dengan biolaku, membuat nada nada yang indah untuk semua orang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Melody
  • AILAH(END)✅
  • Gula - Gula
  • ELZEAN [On Going]
  • Transcend | 1.2 (TAMAT)
  • Duniaku
  • Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
  • How to Burn the Bad Boy (END)
  • Friendship In Love

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines