HEALAER

HEALAER

  • WpView
    Reads 1,389
  • WpVote
    Votes 108
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadComplete Tue, Jul 26, 2016
*** Ada kalanya kamu harus menyerah untuk mencari, dan membiarkan takdir membawa dia pada dirimu, hidupmu, juga cintamu. Perempuan berusia 23 th itu menghangatkan kedua tangannya yang beku. Salju-salju membeku di sepanjang jalan. Tubuhnya benar-benar beku. Tapi tidak dengan hatinya. Lelaki itu menunggu di sana. Di antara jejeran lampu taman yang kerlap-kerlip. Dadanya bergemuruh. Tubuhnya dingin- tapi tidak dengan hatinya. Lelaki itu tetap berdiri. Menunggu seseorang, mungkin. *** John menatap arlojinya beberapa kali. Sudah sejam berlalu- dan dia masih setia. Musim dingin membawa luka sekaligus kerindukan yang dalam tentang seseorang yang selama dua tahun ini tak pernah pergi dari ingatannya. Kekasihnya. Kekasihnya yang abadi dalam ingatan. Salju-salju membeku, tapi tidak dengan hatinya.
All Rights Reserved
#114
healer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines