Tiga Pagi

Tiga Pagi

  • WpView
    Reads 344
  • WpVote
    Votes 71
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 10, 2024
Cerita-cerita hasil manifestasi dari pukul tiga pagi hingga pagi berikutnya, terus berulang dan (semoga) tidak akan berhenti. * Iya, ada band bernama tigapagi. Band Indie beraliran Folk dari Jawa Barat. Sedikit cerita, Tigapagi adalah band yang diibaratkan sendiri oleh Kang Sigit sebagai sebuah gudang yang dicoba disusun rapi. Di dalam gudang tersebut kita tidak tahu ada apa, apakah ada radio tua atau sepatu, jadi betul-betul tidak bisa ditebak. Mungkin, sama seperti cerita ini, tidak terduga apa itu isinya. Kalau saya bosan lalu membuat cerita, biasanya cerita itu dibiarkan saja begitu. Sekarang saya ingin mengumpulkan cerita-cerita itu hingga menjadi sebuah tempat yang dapat dinikmati orang-orang, tidak hanya menjadi sampah di laptop saya saja. * Gambar cover diambil bebas dari weheartit.com
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • NOESIS [END]
  • Perpindahan Dimensi Sang Penulis
  • ...
  • KALINDRA
  • NocturnighT
  • Baper -SELESAI-
  • Aksara Lingga
  • Age Quod Agis

Setiap pagi dimulai dengan nada yang sama. Nada yang tidak asing, tapi juga tak pernah benar-benar diingat. Seperti dengung lembut yang tumbuh dari dinding, atau bisikan yang terlalu sopan untuk membangunkan siapa pun. Anak-anak terbangun perlahan. Mereka tahu kapan harus duduk, kapan harus tersenyum, dan kapan harus mengatakan "terima kasih" pada sesuatu yang tidak pernah mereka lihat. Langit tak pernah berubah. Lantai tak pernah berdebu. Hari-hari disusun rapi seperti barisan seprai yang terlipat. Tidak ada yang jatuh. Tidak ada yang hilang. Kecuali... sesuatu yang tidak pernah disebut. Di antara semua yang seragam, ada satu yang tidak persis cocok. Seorang anak perempuan yang terlalu tenang, terlalu sering diam di tengah keramaian, dan matanya-selalu mencari sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Serene. Ia menulis hal-hal kecil di balik kertas tugas. Hal-hal yang tidak pernah diajarkan, dan tidak boleh ditanyakan. Ia mencatat kapan musik terasa sedikit lebih sendu, kapan suara langkah di lorong tidak cocok dengan jumlah kaki. Orang bilang Serene hanya anak yang suka berpikir. Anak yang tidak pernah nakal, tidak pernah melawan. Tapi mereka tidak tahu... diam itu kadang bukan berarti lupa, melainkan mengingat terlalu banyak. Dan pagi-pagi di tempat ini, yang seharusnya hangat dan tenang, perlahan mulai terdengar berbeda- bukan karena ada suara baru, tapi karena seseorang mulai benar-benar mendengarkan. [Update setiap Malam] 《DISCLAIMER》 [DON'T COPY PASTE MY STORY!!] *Aku butuh sebuah 🌟 agar mereka yang tak terlihat tidak mendekat * Start = 14 mei 2025 Finish =

More details
WpActionLinkContent Guidelines