HELLO GOODBYE

HELLO GOODBYE

  • WpView
    Reads 523
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 30, 2016
Tak pernah jatuh cinta itu lah aku .. Terlalu bodoh ialah aku .. Terlihat hidup namun seperti mayat pastilah aku .. Mencoba mengubah takdir adalah usaha keras ku .. Aku tak pernah jatuh cinta, tak pernah merasakan apa itu cinta, maklum saja aku orang yang termasuk selektif dalam memilih pasangan. Hingga pada akhirnya suatu hari aku bertemu dengan seorang gadis yang mampu merubah hari ku menjadi lebih berwarna dan membuat diriku mengerti tentang arti cinta yang tulus dan arti sebuah perjuangan. Dia bagai pelangi yang hadir sementara, tampilan yang begitu indah membuat ku terbius oleh pesona warnanya. Kebahagian dan kesedihan selalu datang silih berganti. Dan pada saat mata ku terbuka... Dua sahabatku, Pay dan Maliq, sering berkata bahwa aku bagaikan kepompong. Hidup tapi tak ada arti hanya diam ditempat dan tidak mencoba mengenal dunia. Aku sering membayangkan suatu saat nanti aku bisa jatuh cinta dan memiliki pasangan layaknya sebuah kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu yang terbang kesana kemari dan menghisap sari bunga.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • [LS1] RAINEESME (Completed)
  • You're Here, But Not For Me
  • Aku Kamu Dan Dia
  • Mahligai Sunyi
  • A Dying Butterfly [SEGERA TERBIT]
  • Akar dan Ranting
  • Cempaka Terakhir ✔
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'
  • Hidup di Dalam Bayangan

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines