We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Diary untuk William

Diary untuk William

  • WpView
    Reads 730
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Fri, Jul 8, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Aku hanya punya ini, di tanganku. Hanya ada beberapa tumpukan buku. Rasanya aku telah merampungkan setengah dari kisah hidupku. Mungkin ini akan selalu cukup baginya, tapi tak berakhir untukku. Bagaimana rasa cinta itu memaksaku untuk selalu bisa mengontrol diriku. Mungkin akan salah jika orang orang melihatku. Hanya saja aku pernah membaca postingan di Twitter bahwa ketika kau mencintai seseorang ada tiga hal yang tidak harus kamu korbankan, yaitu yang pertama agama, kedua keluarga, dan ketiga harga diri. Mungkin dua diantaranya aku bisa, namun lagi lagi, ini bukan sebuah dilema antara harus memilih. Ini bukan juga sebuah kesalahan yang harus disudutkan. Hanya saja memang ini jalanku. Ketika semua orang bertanya, bagaimana bisa? Aku hanya tersenyum. Jangankan untuk menjawab, aku sendiri saja tidak pernah menemukan jawabannya. Bahkan seorang itu, yang digadangkan genius pun tak bisa menjawab. Lalu aku bisa apa? Pasrah. Bukan juga pilihan. Aku harus tetap melanjutkan hidupku. Prawita
All Rights Reserved
#75
william
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • FATE LOVE S2 •Sunsun•✓
  • L.O.S.T Don't Know How to Love
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'
  • A Dying Butterfly [SEGERA TERBIT]
  • Yang Tertinggal
  • Mahligai Sunyi
  • Alhamdulillah Berjodoh

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines