Delusion Of Secret

Delusion Of Secret

  • WpView
    Reads 835
  • WpVote
    Votes 96
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 11, 2019
Delusion of secret.. sebuah rasa yang benar-benar dari hati kecilku.. jauh paling dalam dari hati ini.. yang siapapun tidak mengetahuinya kecuali alam yang menjadi saksi bisu sebuah rahasia kecil yang selalu kupendam selama ini.. aku hanya seorang yang labil yang hanya bisa menyalurkan rasa kesal, sedih, senang, dan bimbang hanya kepada tulisan.. karena aku tak sanggup melihat reaksi mereka setelah mengetahui rahasia kecilku ini.. maka dari itu.. aku membuat kisah Delision Of Secret hanya untuk melampiaskan rasa kecewa ini.. rasa sedih yang tiada akhirnya bagiku walapun kini aku sudah bahagia.. tapi kebagiaan itu hanya fatamorgana bagiku semata.. Sudah kuperingatkan di awal.. ini delusi.. jadi nyata atau tidak, tidak ada yang tahu sampai kapan pun dan dimanapun.. karena hanya sebuah delusi yang memberikan candu untukku menulis cerita ini.. . . . tanpa sadar kalian telah masuk ke dalam lingkup imajinasi gilaku
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 3. Cerita Etalase dan Tempat Tidur GXG (END)
  • Married By Accident
  • Tere
  •  Tentang Rasa (COMPLETED)
  • ngger adalah vandyku
  • My Brother | BL [21+]
  • I Can't Loving You

18+ Atau mungkinkah kamu hanya butuh sebuah pasak? Sesuatu yang membuatmu bertahan pada satu saat di tengah-tengah waktu yang berputar. Sehingga rumah bukan lagi ruang transit, tapi pulang." Diang tersenyum. Ia selipkannya sehelai rambut di belakang telinganya, dari sudut matanya setetes air mengalir turun. "Lalu bagaimana?" bisiknya. Matanya membawaku pada perasaan rindu. Begitu luka, begitu haru. Aku menangkupkan telapak tanganku pada tulang pipinya yang tegas. Lalu kucium dia. Bibirnya. Kuhirup bau wajahnya. Kuhisap air liurnya. Ia berhenti bernafas. Pupil matanya melebar. "Kamu cantik, kenapa menjadi pelacur?" Perempuan ini bertanya. Ia menggulung rambutnya sehingga aku dapat dengan jelas memindai rambut-rambut halus yang berbaris dan bentuk tengkuknya yang langsing. "Kamu begitu sopan, mengapa menyewa pelacur?" tanyaku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines