SAHARA
  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 4, 2016
"Bagiku harapan hanya akan menjadi harapan. Tidak lebih" Sahara Arumingratri, perempuan dengan segala kekurangan, sering menjadi korban bully, keluarga yang tidak harmonis, akhirnya memutuskan berubah. Sahara adalah perempuan yang sering terobsesi. Raihan Wijaya, laki - laki yang diam diam Sahara cintai. Meskipun nyatanya bertepuk sebelah tangan. Riandi Alfatih, laki - laki dari masa lalu Sahara yang pernah menyakiti Sahara datang ke hadapan perempuan itu secara tiba - tiba. Kembali memasuki kehidupan Sahara meskipun nyatanya perempuan itu membencinya.
All Rights Reserved
#144
hurts
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak wasiat kakakku
  • RAIN
  • 𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT]
  • Our Path Diffrent
  • Naura & Lukanya
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Langit Yang Sama
  • Sampurna Almeta [TAMAT]
  • ARAH KEMBALI

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

More details
WpActionLinkContent Guidelines