Prolog
  • WpView
    Odsłon 15
  • WpVote
    Głosy 1
  • WpPart
    Części 1
WpMetadataReadZakończone pon., lip 4, 2016
Angin musim dingin berembus melewati kulitku dengan lembut. Sensasi dingin membekas di wajahku. Perlahan-lahan, ujung tanganku dingin dan hampir menuju ambang kebekuan. Tapi cepat-cepat tanganku ku masukkan ke dalam saku jaketku. Melihat pemandangan matahari terbenam di atas rumah sebelum musim dingin tiba merupakan rekomendasi yang bagus. Tak berapa lama kemudian, cahaya matahari meredup termakan waktu dan meninggalkan langit yang bersemburat merah dan jingga menjadi warna biru kehitam-hitaman yang kelam. Aku membalikkan badan lalu berjalan meninggalkan atap. Berharap kalau orang tuaku tak mencariku agar tempat persembunyianku tak di ketahui. Semakin lama ku melangkah, langkahku menjadi cepat. Pikiranku berputar akan pesannya orang tuaku untuk membersihkan kamar tamu karena nanti malam akan ada yang datang. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah tamu itu? Apakah aku bisa mengakrabkan diri dengan tamu itu? Dan aku justru sangat mengharapkannya. Note* Tehe~~ Semoga kalian suka!!
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
Dołącz do największej społeczności pisarskiejOtrzymuj spersonalizowane rekomendacje dzieł, zapisuj ulubione dzieła w bibliotece oraz komentuj i głosuj, aby rozwijać swoją społeczność.
Illustration

To może też polubisz

  • Dua cangkir satu Meja
  • Promise Me ( END )
  • Remember Me As A Time of Day✅
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Eliinaa
  • SWEET LOVE [ON GOING]
  • sraddah (on going)
  • Indifferent Prosecutor Girl [Completed]
  • 27 FEBRUARI
  • Hai, Kak! (END)

Dua cangkir di satu meja. Salah satunya kopi hitam yang mulai dingin, satunya lagi teh hangat yang baru diseduh. Sama seperti mereka-dua orang yang dulu satu keluarga, kini seperti orang asing di bawah atap yang sama. Dewa sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bisa makan mi instan kapan saja tanpa ada yang mengomentari. Bisa pulang larut tanpa ada yang menunggu. Bisa menjalani hari-harinya tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Lalu datang ayahnya, yang entah sejak kapan mulai mengatur ulang dunianya. Mengajaknya makan bersama, menyeduhkan teh di pagi hari, bahkan diam-diam mengganti mi instan dengan sesuatu yang lebih bergizi. Dewa tidak mengerti-apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya? Kenapa setelah tujuh tahun pergi, kini ia kembali dan bertingkah seolah-olah segalanya masih bisa diperbaiki? Di sisi lain, ada Nira, seseorang yang selalu ada untuknya. Tapi kini, ia merasa semakin jauh. Hubungan yang dulu terasa nyaman perlahan berubah menjadi sesuatu yang penuh pertanyaan. Di antara meja makan yang dulu selalu sepi, dua cangkir yang tak pernah sama, dan sepiring mi instan yang akhirnya tak lagi dimakan sendirian, Dewa harus menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: apa arti pulang yang sebenarnya? Slow fic Sudah selesai ditulis sampai ending, sudah dipublikasikan pula semuanya. Sebab, aku tidak suka menunggu. Jadi, aku tidak akan membuatmu menunggu. 48 bab secara total. Bacalah jika menurutmu layak dibaca, tinggalkan jika menurutmu membosankan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga. by Tigajully 2025

Więcej szczegółów
WpActionLinkWytyczne Treści