Prolog
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Jul 4, 2016
Angin musim dingin berembus melewati kulitku dengan lembut. Sensasi dingin membekas di wajahku. Perlahan-lahan, ujung tanganku dingin dan hampir menuju ambang kebekuan. Tapi cepat-cepat tanganku ku masukkan ke dalam saku jaketku. Melihat pemandangan matahari terbenam di atas rumah sebelum musim dingin tiba merupakan rekomendasi yang bagus. Tak berapa lama kemudian, cahaya matahari meredup termakan waktu dan meninggalkan langit yang bersemburat merah dan jingga menjadi warna biru kehitam-hitaman yang kelam. Aku membalikkan badan lalu berjalan meninggalkan atap. Berharap kalau orang tuaku tak mencariku agar tempat persembunyianku tak di ketahui. Semakin lama ku melangkah, langkahku menjadi cepat. Pikiranku berputar akan pesannya orang tuaku untuk membersihkan kamar tamu karena nanti malam akan ada yang datang. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah tamu itu? Apakah aku bisa mengakrabkan diri dengan tamu itu? Dan aku justru sangat mengharapkannya. Note* Tehe~~ Semoga kalian suka!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sehari Untuk Selamanya
  • Bertumpu
  • Indifferent Prosecutor Girl [Completed]
  • Eliinaa
  • Memories in Moon
  • Promise Me ( END )
  • [LS1] RAINEESME (Completed)
  • New Possessive Family
  • Dua cangkir satu Meja

"pokoknya nji mau nya mama yang suapin" _kenzie "Kamu apa-apaan sih Kenzie? Udah gede gitu emang nggak malu?" _Riana "Tapi mama kan udah janji seharian bakal turutin permintaan nji?" _kenzie "Iya tapi hari ini kamu tuh aneh. Manja banget. Mama juga butuh istirahat buat besok, nah ini kamu dari pagi banyak banget mau nya. Minta di potongin kuku lah, di temenin tidur siang lah. nah sekarang apalagi? Minta di suapin? Ayolah Kenzie.. kamu udah 15 tahun." _Riana "16 ma.. 2 bulan lalu." _Kenzie Satu fakta lagi bahwa ibunya memang melupakan hari kelahirannya. "Nji janji ini terakhir kalinya.. eh enggak deh. Besok nji minta papa mandiin nji dulu" _kenzie Riana tak pernah berfikir bahwa itu adalah obrolan terakhirnya dengan Kenzie, anak sulungnya yang selama ini mengemis kasih sayang dan terabaikan olehnya. "Tapi mama tau nggak kalau malaikat mencabut nyawa nggak harus orang yang sakit aja ma.. kadang tuhan manggil orang yang...." "Diam Kenzie. Kamu lagi makan nggak boleh sambil bicara" potong Riana, hatinya tiba-tiba perih mendengar ocehan putranya. "Kamu tau kalau Khanza lebih butuh perhatian Kenzie" _batin Riana..

More details
WpActionLinkContent Guidelines