Chapter 1

Chapter 1

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Jul 4, 2016
Langkahku menggema di dalam koridor yang sepi. Kalau kalian beranggapan kalau rumahku adalah sebuah rumah besar yang kosong dengan satu perempuan sendirian di dalamnya itu salah. Aku mempunya banyak saudara. Dan aku sendiri adalah anak bungsu. Sebagian dari kami, tujuh bersaudara ada yang sudah berkeluarga dan sisanya masih dalam jenjang pendidikan. Aku terus melangkah hingga akhirnya sampailah aku tepat di depan kamar tamu yang akan hendak kubersihkan. Peralatan bersih-bersih ku taruh di lantai lalu dengan segenap kekuatan aku mendorong pintu berdaun besar itu hingga menimbulkan derit pintu yang kasar. Aku mengambil peralatan dan masuk. Kamar yang kumasuki masih tertata rapi di dalamnya tetapi sedikit debu. Mulailah perjuanganku dalam bersih-bersih. Mejaku lap, lemari dibersihkan lantai di sapu dan akhirnya, kamar tamu menjadi benar-benar bersih. Aku tersenyum senang dan yang harus aku lakukan adalah menunggu tamu itu di lantai bawah. Seperti apakah tamu itu? Bersambung~
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DANADYAKSA
  • JASA [TAMAT]
  • Araleya: Titik Temu Semesta
  • ALEXON [END]
  • ALVIN (On Going)
  • GRIZLEN {On Going}
  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • DEAL | Friend Into Lover| Lengkap✔
  • Don't Talk About Money

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines