Eccedentesiast

Eccedentesiast

  • WpView
    Reads 1,598
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 5, 2017
"Lo nggak ngerti atau pura-pura nggak sadar? Gue ini suka sama lo!" "..." Sang sasaran tersenyum teduh, akhirnya ia mendengar sendiri kata-kata yang telah ia tunggu sejak lama. "Dulu, dan mulai memudar seiring waktu." "Mau denger rahasia kecil?" "Apa?" "Gue pernah menunggu buat lo, tapi sekarang, menunggu atau menyerah sama aja kan?" Gadis itu tersenyum tipis, menghiraukan tatapan terkejut yang tak bisa disembunyikan oleh lawan bicaranya. "Kenapa...kenapa lo ngasih tau ini ke gue?" "Biar kita sama-sama tau, betapa kita pernah sama-sama bodoh demi menyembunyikan perasaan yang sama karena gengsi." Saat itulah, ia mulai menyukai hujan. Membenci warna merah jambu, dan tak lagi membaca novel romansa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • Amor Almira
  • REVANO UNTUK REVA
  • Matahari
  • Effort 2 [ Completed ]
  • Goodbye Alaska [END]
  • CLOSER
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • ALSTARAN [END]
  • Pieces of Light

Sekolah. Sekedar ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka atau versi terbaru, kecilnya. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point nilai lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines