Eccedentesiast

Eccedentesiast

  • WpView
    Reads 1,617
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 5, 2017
"Lo nggak ngerti atau pura-pura nggak sadar? Gue ini suka sama lo!" "..." Sang sasaran tersenyum teduh, akhirnya ia mendengar sendiri kata-kata yang telah ia tunggu sejak lama. "Dulu, dan mulai memudar seiring waktu." "Mau denger rahasia kecil?" "Apa?" "Gue pernah menunggu buat lo, tapi sekarang, menunggu atau menyerah sama aja kan?" Gadis itu tersenyum tipis, menghiraukan tatapan terkejut yang tak bisa disembunyikan oleh lawan bicaranya. "Kenapa...kenapa lo ngasih tau ini ke gue?" "Biar kita sama-sama tau, betapa kita pernah sama-sama bodoh demi menyembunyikan perasaan yang sama karena gengsi." Saat itulah, ia mulai menyukai hujan. Membenci warna merah jambu, dan tak lagi membaca novel romansa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Matahari
  • CLOSER
  • Jane [OPEN PO]
  • Penantian
  • Amor Almira
  • Abstrak
  • Goodbye Alaska [END]
  • REVANO UNTUK REVA
  • Effort 2 [ Completed ]
Matahari

Aditya Baskara benci ketika mengingat acara bunuh dirinya yang tak jadi karena dipergoki oleh seorang gadis cacat kaki bernama Arunika Ahana. Terlebih lagi dengan ucapan sarkas gadis lemah itu. Setelah kejadian itu, Arunika masuk ke dalam daftar jajaran orang yang harus Baskara jauhi. Tapi di kemudian hari, Baskara dengan tak ada harga dirinya malah memohon Arunika untuk memeluknya ketika astraphobia-nya kambuh. Baskara agaknya sudah semakin gila ketika tanpa sadar tiap malam ia selalu rindu akan pelukan Arunika. Sehaus kasih sayang itu kah dirinya? "Itu air buat gue, 'kan?" "Bukan. Ini buat Arvi." "Arvi?" Baskara tersenyum kesal, menatap tajam Arunika. Dia menunduk mensejajarkan kepalanya dengan Arunika dan membawa tangan gadis itu menyentuh rahangnya. "Yang butuh perhatian itu gue, bukan Si Ingusan itu." "Kamu-!" "Gue haus, Aru-haus kasih sayang lo." 23. 08. 2024 [ Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang ]

More details
WpActionLinkContent Guidelines