SHE WAS BLUE

SHE WAS BLUE

  • WpView
    LECTURAS 185
  • WpVote
    Votos 9
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, jul 14, 2016
Lantunan melodi memenuhi setiap sudut aula itu. Seorang gadis berjinjit di bawah satu cahaya yang hanya menyorot kepadanya. Gadis itu membiarkan tangan mungilnya menari di udara. Sepasang kaki jenjangnya melompat, bersamaan dengan tubuhnya yang melayang di udara. Pinggang rampingnya terus berputar, berputar, dan berputar dengan ketukan yang semakin lama semakin cepat. Namun, ia tidak merasa lelah. Satu gerakan, dua gerakan, sampai hampir 39 gerakan ia lakukan. Tapi komentar orang-orang yang hinggap di pikirannya belum saja terbang meninggalkannya sendiri. Ia harap udara menjatuhkan tubuhnya ke pijakan dingin ini, tempat ia menyalurkan seluruh rasa yang tak pernah bisa ia ungkapkan. Ia bosan. Bosan merasakan sesuatu yang selalu harus ia pendam. Andaikan saja semua perasaan di hatinya bisa ia tumpahkan dalam bentuk air mata. Tapi, tidak, tidak boleh menangis. Menangis hanya akan menambah masalah bagi tubuhnya.
Todos los derechos reservados
#5
cliche
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Bintang Dilangit Senja
  • Is LOVE
  • Arsyilazka
  • Killa
  • Beautiful Disaster
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Aderaga [ON GOING]
  • Lean On Me [END]
  • War Of Hormones
  • LOVE IS LOVE

"kita lempar yaa.. Satu.... Dua.... Tiga...!" Prilly melemparkan botol berisi kertas yang bertuliskan impiannya dimasa depan ke pantai. Aliando memandang Prily, memegang kedua tangannya. Kini dua bola mata mereka saling bertatapan. Dia mau nembak gue, yay!! batin Prily. Jantungnya berdebar kencang, kakinya mulai lemas. Tidak pernah Prily alami hal seperti ini. Prily yang dulu membencinya, kini mulai merasakan hal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Cinta. Dia mulai menyadari perasaan itu. "Prill.!!" panggilnya. "Iya.." jawab Prily dengan rona mata penuh harap. "Maaf, aku harus pergi." Ali menundukkan wajahnya. Senyum bahagia Prily berubah dengan seketika, dadanya terasa sesak. "Hari ini hari terakhir kita ketemu." Lalu Ali memeluk Prily dengan erat, seolah olah ini begitu berat. "Tapi kenapa?" kata Prily lirih tanpa membalas pelukan Ali. Ali melepas pelukannya dan berlalu pergi. Prily masih diam ditempat memandang kepergian Ali. ...

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido