SHE WAS BLUE

SHE WAS BLUE

  • WpView
    Reads 185
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 14, 2016
Lantunan melodi memenuhi setiap sudut aula itu. Seorang gadis berjinjit di bawah satu cahaya yang hanya menyorot kepadanya. Gadis itu membiarkan tangan mungilnya menari di udara. Sepasang kaki jenjangnya melompat, bersamaan dengan tubuhnya yang melayang di udara. Pinggang rampingnya terus berputar, berputar, dan berputar dengan ketukan yang semakin lama semakin cepat. Namun, ia tidak merasa lelah. Satu gerakan, dua gerakan, sampai hampir 39 gerakan ia lakukan. Tapi komentar orang-orang yang hinggap di pikirannya belum saja terbang meninggalkannya sendiri. Ia harap udara menjatuhkan tubuhnya ke pijakan dingin ini, tempat ia menyalurkan seluruh rasa yang tak pernah bisa ia ungkapkan. Ia bosan. Bosan merasakan sesuatu yang selalu harus ia pendam. Andaikan saja semua perasaan di hatinya bisa ia tumpahkan dalam bentuk air mata. Tapi, tidak, tidak boleh menangis. Menangis hanya akan menambah masalah bagi tubuhnya.
All Rights Reserved
#13
cliche
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LOVE IS LOVE
  • Stay (Away)
  • Killa
  • Pieces of Light
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Fragile
  • Beautiful Disaster
  • Back For Me (Completed)
  • ALEXON [END]
  • Sweet But a Little Psycho (COMPLETED✔)

"Gue gak tau lagi harus ngajarin lo kayak gimana. Gue capek tau gak. Lo itu begonya udah akut," kata Ali sambil mengacak rambutnya frustasi. PLAKKKK! satu tamparan keras tepat bersarang di pipinya yang membuat dia meringis. "Lo gak berhak ngejudge gue kayak gitu. Gue gak pernah mohon-mohon ke lo buat ngajarin gue," suara itu terdengar bergetar. Prilly berusaha menahan tangisnya agar tak pecah. laki-laki di hadapannya ini benar-benar membuat kesabarannya habis. Andai saja ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, pasti dia akan berfikir beribu kali untuk mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Namun untuk apa Prilly menjelaskan. si jenius ini tidak akan perduli.

More details
WpActionLinkContent Guidelines