SHE WAS BLUE

SHE WAS BLUE

  • WpView
    Reads 185
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 14, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Lantunan melodi memenuhi setiap sudut aula itu. Seorang gadis berjinjit di bawah satu cahaya yang hanya menyorot kepadanya. Gadis itu membiarkan tangan mungilnya menari di udara. Sepasang kaki jenjangnya melompat, bersamaan dengan tubuhnya yang melayang di udara. Pinggang rampingnya terus berputar, berputar, dan berputar dengan ketukan yang semakin lama semakin cepat. Namun, ia tidak merasa lelah. Satu gerakan, dua gerakan, sampai hampir 39 gerakan ia lakukan. Tapi komentar orang-orang yang hinggap di pikirannya belum saja terbang meninggalkannya sendiri. Ia harap udara menjatuhkan tubuhnya ke pijakan dingin ini, tempat ia menyalurkan seluruh rasa yang tak pernah bisa ia ungkapkan. Ia bosan. Bosan merasakan sesuatu yang selalu harus ia pendam. Andaikan saja semua perasaan di hatinya bisa ia tumpahkan dalam bentuk air mata. Tapi, tidak, tidak boleh menangis. Menangis hanya akan menambah masalah bagi tubuhnya.
All Rights Reserved
#33
cliche
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pieces of Light
  • Ali Alfikri [Selesai]
  • Back For Me (Completed)
  • Fragile
  • ALEXON [END]
  • Killa
  • Is LOVE
  • LOVE IS LOVE
  • War Of Hormones
  • Aderaga [ON GOING]

Di bawah bayang-bayang pohon besar di taman sekolah, waktu seolah melambat. Hembusan angin pagi yang lembut membawa aroma dedaunan basah, sementara suara langkah-langkah kecil para siswa terdengar samar di kejauhan. Di sana, Aveline duduk di ayunan, dikelilingi keheningan yang ia ciptakan sendiri. Rafael melihatnya dari kejauhan. Gadis itu berbeda. Perkenalan singkatnya di kelas hari sebelumnya-begitu sederhana, begitu tanpa upaya mencuri perhatian-justru membuatnya penasaran. Hari ini, dengan bunga di tangannya dan keberanian yang ia kumpulkan semalaman, Rafael melangkah mendekat. "Kamu mau nggak jadi teman baik aku?" tanyanya, suaranya bergetar sedikit. Aveline menatapnya, lalu menaikkan alis dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Rafael menggaruk kepalanya, lalu buru-buru menambahkan, "Mmm... atau kalau nggak, karena kamu pintar, boleh nggak ajarin aku pelajaran yang aku nggak bisa?" Setelah jeda singkat, Aveline akhirnya mengangguk kecil. Dalam momen itu, tanpa banyak kata, hubungan mereka pun dimulai-perlahan tapi pasti, seperti cahaya pagi yang menembus dedaunan, membawa kehangatan pada hari yang baru. "Pieces of Light" adalah kisah tentang pertemuan sederhana yang mengubah segalanya, tentang dua jiwa yang saling menemukan arti keberanian, cinta, dan harapan di tengah perjalanan hidup. ------------------ If u don't like it just skip it thanks!!! upload setiap Senin dan Jumat ✨

More details
WpActionLinkContent Guidelines