We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Rindu
  • WpView
    Reads 628
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Feb 21, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Hanya sekumpulan rindu yang ku balut dalam bentuk kalimat. Aku tau, bahwa sebuah tulisan akan selalu dikenang hingga kapan pun. Sekumpulan kalimat yang ku tulis mungkin tak penting bagimu. Tapi, ini caraku menyampaikan rindu yang terus meronta ronta untuk ku beritahu padamu. Untuk mu. Siapapun itu,yang saat ini sedang merindukan seseorang. Semoga rindu yang ku balut dalam bentuk kalimat. Serta kenangan yang ku tuang dalam setiap kata. Mampu,membuat debar jantung mu berkurang. 20 Pesan dan kalimat rindu ini, sengaja ku tuliskan dalam bentuk cerita yang berbeda. Ku harap, kau dapat merasakan bagaimana debarnya hatiku menuliskan ini. =============================== DILARANG MEMBAJAK/MENG COPY CERITA/MENJIPLAK ISI ATAUPUN JUDUL DAN SEGALA HAL YANG ADA DALAM CERITA INI/MENYEBARLUASKAN TANPA SEIZIN. DAN APABILA MERUGIKAN PENULIS. Copyright© 2017 by nurainizulfah Cerita ini dilindungi oleh UU Hak Cipta.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Let Me Love You Longer
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • RANNA
  • MY TOXIC RELATIONSHIP? - HEERINA
  • Mencintaimu Dari Ujung Senja
  • DENTING  [Revisi]
  • FIZYA
  • LOVE AND FRIENDSHIP ( R & J : 1 )
  • TOXIC RELATIONSHIP - JENRINA

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines