Silvanium

Silvanium

  • WpView
    Reads 993
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 14, 2020
WpInfo
Fiction
Fantasy
Ini bumi kita. Masih bumi yang sama, 308 tahun dari waktu kita sekarang. Hanya saja peperangan, bencana alam dan kerakusan manusia membuatnya tak lagi dikenali. Manusia kembali menjadi primitif. Tapi sejak tambang mineral adidaya ditemukan, harapan kembali muncul. Sayangnya ada monster yang juga datang bersama harapan itu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESCENDANTS OF SEVENTEEN (a story can't never tell)
  • The Bride Of Olympus [Sudah Terbit]
  • [S1] Parallel Lies
  • The Sky People (TAMAT)
  • Lembayung Terakhir
  • Stellar Temporis - Sarnova [END]
  • OOD EYES II : the existence of illicit
  • [Rombak] -Kemunculan Planet-planet Baru di Tatasurya
  • Say You Love Me (BAD BOY)
  • THE 5 : Jupiter | END

Tujuh puluh tahun yang lalu, dunia seperti yang dikenal manusia hancur seketika. Sebuah meteorit raksasa menghantam bumi pada tahun 2017, menelan lebih dari setengah populasi manusia dalam kobaran api dan kehancuran. Namun, dari reruntuhan itu, lahir sesuatu yang tak terduga-tujuh batu kristal sakti yang menyimpan kekuatan di luar nalar manusia. Bersamaan dengan munculnya batu-batu misterius itu, dunia yang selama ini tersembunyi mulai memperlihatkan dirinya. Ras-ras lain seperti Ligeria, Arzi, dan Farman, yang selama ini bersembunyi di balik realitas manusia, akhirnya muncul ke permukaan. Namun, pertemuan ini bukannya membawa kedamaian, melainkan awal dari perang yang lebih besar. Farman, ras yang paling ambisius, mulai menaklukkan dunia dengan cara kejam, memperbudak ras lain, dan merebut wilayah yang bukan milik mereka. Di tengah peperangan yang berkecamuk, Raja William Thinkler dari kaum Arzi berusaha menjadi perisai terakhir bagi perdamaian. Namun, takdir berkata lain-ia gugur di medan perang, meninggalkan sumpah yang akan menggema sepanjang zaman. "Hari ini bukanlah akhir, hanya bayangan dari fajar yang belum nyata..." "Saat kelam merangkak mundur, tertimpa cahaya senja yang enggan padam." "Dimana Pantang menyerah masih akan berdiri, di atas ragawi dosa dosa." "Sebilah besi akan terangkat tanpa amarah, dan dari gemuruh pertempuran, suara kedamaian pun terlahirkan." Sebuah janji tertinggal di antara kehancuran, sebuah harapan yang menunggu untuk ditepati. Perang ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kisah yang lebih besar-sebuah perjalanan yang akan menentukan nasib dunia yang baru.

More details
WpActionLinkContent Guidelines