Cheer Up
  • WpView
    Reads 205
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 24, 2021
Mungkin hanya aku yang merasa dunia ini membosankan. Mungkin hanya aku yang menganggap aku orang tersial didunia ini. Mungkin juga hanya aku yang mempunyai mimpi yang tidak akan pernah bisa di gapai. Tapi, aku bertemu dengannya. Dia yang penuh senyuman. Dia yang memiliki ambisi. Dia yang menguasai seluruh hatiku. Hanya saja, aku tidak sanggup menatapnya. Tidak mampu menyamai langkahnya. Tidak bisa memiliki hatinya. Karena, aku hanyalah malam. Dan kau adalah siang...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misteri- US
  • Cahaya Dirimu
  • Bukan MiliKku
  • Love is friendship
  • flashback~
  • SI BOSS KAYA TANPA CINTA
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Falling Down

Suatu hari kita dipertemukan oleh hujan, di bawah hujan, kita saling pandang. Kau ibarat payung, membuatku merasa teduh setiap kali dingin mengigilkan. Kita adalah sepasang rindu tanpa ikatan. Seringkali aku membatin, haruskah ku tanyakan perihal rasamu, mengapa kau selalu ada memenuhi segala kebutuhanku. Tuhan teramat baik. Tanpa waktu yang lama, kita akhirnya dipertemukam lagi, kali ini pertemuan yang sangat romantis. Kau memintaku menjadi pendamping hidupmu. Aku merasa beruntung, masih bernafas hingga detik ini. Tidak secuilpun, bahwa hidup bersamamu akan menjadi sebuah kenyataan. Lagi - lagi Tuhan teramat baik, dia berikan aku kesempatan membina keluarga sederhana bersamamu, bukan lagi hujan yang menciptakan romantisnya, namun pelukanmu adalah sebuah keromantisan yang setiap saat ku rasakan. Baru sejenak, karena Tuhan begitu sayang kepadaku. Sepulang dari Honeymoon, Tuhan menguji dengan perpisahan kita setelah honeymoon yang terasa begitu manis. Ingin ku sesali hari itu, andaikan saja begitu bathinku selalu bersuara. Namun, aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri. Sekarang aku hanya bisa mengikhlaskan, sembari menunggu benihmu yang tumbuh di perutku bisa menatap dunia. Aku tak sanggup lagi membaca deary yang ku pegang saat ini, yang ternyata adalah deary ibuku sendiri. Perlahan semuanya berlalu. Aku kehilangan arah dan tujuan. Semua berubah, kehidupanku. Hingga pada akhirnya, aku tersadarkan. Bahwa tidak ada surat ibu ke koran, tiada deary, tidak ada ibu angkat yang jahat, juga tidak ada kisah cintaku bersama Alex. Orang yang ku benci selama ini adalah ibu, perempuan yang melahirkanku. Perempuan yang masih bisa menatapku dengan penuh cinta, disaat suaminya, Ayahku. Harus meregang nyawanya karenaku. Semua ulahku, andai saja aku mendengarkan permintaan ibu untuk tidak menjalin hubungan dengan Arkan, ini tidak terjadi. Pasien skizofrenia ! Aku melangkah gontai, mengikuti langkah kaki perawat yang memanggilku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines