Puisiku
  • WpView
    Reads 302
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 28, 2017
Diam... Bukan mauku selalu membungkam di depan mereka. Tapi apa mereka peduli? Aku fikir tidak. Mereka hanya ingin tau dan menilai apa yang terjadi. Menulis.. Bukan mauku untuk menjadi yang mereka idolakan dengan sejuta ide dan kreasi. Tapi setiap imajinasi selalu muncul dan menjadi nyata. Apa harus berhenti menulis? Lalu dengan cara apa lagi aku meluapkan semuanya ? Tuhan... Bukan mauku menjauh dan mendekat ketika mendapat cobaan. Tapi tuhan masih memintaku terus selalu bersabar menunggu. Lalu bagaimana jika mereka selalu merendahkan, menilai bahkan memfitnah diriku yang jelas tidak mengerti apa yang mereka tuduh? Apa harus selalu diam ? Oh.. Ini puisi dari beberapa imajinasi dan pengalaman~ Hai Plagiats, copast? izin dulu ya Check it out~
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ENDLESS SUFFERING [•Halilintar•] Empire Era
  • [✔] HEY TWINS!
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • CERPEN (END)
  • Sajak Semesta
  • Star - Gempa (End)
  • Little Sister [Boboiboy Elemental]
  • Kutinggalkan dia karena Dia
  • BENANG MERAH (End)

Bagaimana perasaan mu ketika kau hanyalah bocah polos tak berdosa berumur lima tahun , bukannya dibawa ke taman bermain penuh keseruan , tapi ke medan perang tempat mayat tergeletak sejauh mata memandang , tempat dimana kaki mu tak luput dari darah yang tergenang , dan tangan kecilmu menggenggam erat pedang ; dengan alasan berjuang demi tanah kekuasaan. Itulah yang Halilintar rasakan. Tak bisa dipungkiri jika dunia yang tak adil selalu memihaknya , memberatkan pundaknya , dan membebani jiwanya. Tidaklah salah ketika Halilintar sendiri bilang ia ingin menyerah , tapi apa? Ia tak berhenti melangkah karna apapun itu , selalu ada hal yang membuatnya harus dan harus untuk memenuhi segala hal. Dia hanya bocah kecil , yang dijadikan lelucon oleh semesta , dijadikan badut oleh dunia , dimana penderitaan itu , seolah tampak lucu dimata orang yang tak tau seberapa tebal topeng diwajahnya. Namun apa? Tak berhenti disitu , tak hanya fisik , mentalnya juga membeku ; mati dihantam tiap hitungan waktu. Tapi lagi lagi , tubuh itu bangkit setelah jatuh.. "Nyawa ayah prioritasku" "Jangan berpura pura , ibu. Jujur lah dalam membenciku" "Jangan bermimpi.. Aku tak pantas disebut kakak" "Aku mati pun , tak ada pengaruhnya untuk hidup kalian! Aku akan mati bahkan sebelum tangan kalian kotor oleh darah ku" "Jangan khawatir , aku sudah terbiasa" " ..... Benar benar terbiasa" Dan dibalik semua itu , ia tak sendirian. "Benar kan~Tuan~?" WARNING!! *KARAKTER DISINI MILIK MONSTA , ENDLESS SUFFER HAHYA MEMINJAM KARAKTERNYA SAJA (ADA BEBERAPA TAMBAHAN KARAKTER DARI AUTHOR) *DILARANG COPY KARNA SAMA DENGAN MENCONTEK! DIDUNIA DIMARAHI MASYARAKAT , DIAKHIRAT DIMARAHI MALAIKAT! *SILAHKAN BERI SARAN DENGAN SYARAT : SOPAN , TIDAK BERTELE TELE , DAN DENGAN BAHASA INDONESIA TENTUNYA *JANGAN LUPA VOTE DAN IKUTI TIAP BAB , OKE!?

More details
WpActionLinkContent Guidelines