We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Calibraska // jack and jack

Calibraska // jack and jack

  • WpView
    Reads 321
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 26, 2016
WpInfo
Fanfic
"Memangnya kau pikir, untuk apa semua hal yang telah kita bangun selama ini?" ucap gadis itu lemah. Rambut cokelat gelapnya jatuh menutupi sebagian wajah cantiknya. Lelaki yang ditanyakan diam membeku. Matanya menatap ke segala arah, asalkan tidak bertemu dengan mata hazel milik gadis di depannya. Dari semua kata yang sudah ia siapkan di kepala, yang bisa keluar dari mulutnya hanya sebuah, "Maaf." Dengan itu, si lelaki bernama Jack Johnson segera menyusul temannya yang bernama Jack Gilinsky dan memasuki mobil, pergi meninggalkan hatinya di bersama gadis yang sedang menangis itu. *** [in which two guys named jack and jack left their good life for a better life. but little did they know, nebraska has given them the best life.]
All Rights Reserved
#33
jackgilinsky
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • POSESIF MAFIA
  • Cemara milik kita || nct dream (Terbit)✔
  • Cegilbar (cewek gila bar-bar)
  • One Last Chance
  • Perihal Sandwich(End)
  • Mata Air Gurun
  • SAPTA HARSA {TERBIT} ✓

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines