Hai, Aku Anna. Ini adalah catatan yang aku tulis setiap kali aku termenung di depan jendela kamarku. Menatap keluar dengan pikiran yang sibuk mengingat apa yang sudah kulewati, setiap harinya. Seorang Anna yang perlahan mengerti apa yang pengalaman hidup ajarkan kepadanya. Dia melihat banyak sudut pandang dari orang-orang yang telah hadir dalam setiap babak perjalanan hidup yang dia lalui. Keluarganya yang harmonis, membuat Anna lupa bahwa mereka suatu hari bisa tiada. Bahkan dirinya pula punya batas usia. Awalnya Anna pun mengira bahwa Andreas, anak dari seorang Kolonel yang merupakan sahabat dekat sang ayah dan sempat menjalin cinta dengannya itu adalah sosok yang akan membersamainya di setiap momen jatuh bangun di kehidupan ini. Namun ternyata, orang baru bernama Adlan datang menggantikan sosok itu. Anna menyayanginya. Tapi Anna tidak dapat melupakan Andreas yang sudah lebih dulu hadir sebelum Adlan. Perasaan Anna sudah teramat dalam pada lelaki itu. Sampai-sampai di setiap karya seni yang dia buat selalu seputar Andreas. Lelaki itu tidak pernah lepas dalam pikiran dan hati seorang Anna. Bahkan abadi di dalam setiap karya miliknya. Meskipun Anna tahu kalau dia dan Andreas memiliki garis pembatas tebal yang sulit dilewati. Perbedaan keyakinan yang ditentang oleh banyak orang. Hubungan Anna dan Andreas sebenarnya tidak pernah selesai. Keduanya saling mengingat satu sama lain meski tidak saling berkomunikasi dan terpisah jarak. Andreas yang hilang kabar dan memilih sibuk dengan kegiatannya di kemiliteran. Di hari libur natal dan tahun baru, dia kembali menampakkan diri. Membuat kenangan lalu itu datang lagi. Anna seperti berdiri di depan cermin besar yang mendadak pecah. Dia kehilangan dirinya. Dan kini, Anna berusaha menemukan di mana seharusnya dia berada.
More details