Terkadang, sewaktu perih, sewaktu terpuruk. Kita bukan butuh adanya cacian maupun ribuan untaian yang katanya berupa penyelesaian.
Padahal yang kita butuh hanya sekadar pendengar yang benar-benar memberikan sepenuh hati telinganya.
Kemudian, butuh media tumpahan, seperti tulisan.
And that's why, Words Bleed happened.
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Nyatanya mau setulus apapun, kalo yang dipengen bukan kita, mau apa lagi?
maaf ya ceritanya berantakan banget karena ini baru pertama kali aku nulis:(
gak lupa makasih bgt buat semuanya yang udah support😚