Mentari di Bukit Berduri

Mentari di Bukit Berduri

  • WpView
    Reads 717
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, Jul 16, 2019
Kisah perjuangan di masa pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan. Memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kewajiban bagi semua rakyat Indonesia. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa ( Pembukaan UUD 1945 ). Berabad lamanya penuh derita. Kini tiba saatnya untuk merdeka. Namun perjalanan masih panjang dan penuh dengan tantangan rintangan, dan cobaan. Mereka berjuang dengan tekad yaitu . . . . MERDEKA ATAU MATI!!!
All Rights Reserved
#1
tri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Renjana : Arutala Dirgantara [Completed]
  • De Caelum
  • PENGABDIAN CINTA
  • Alena
  • Ruang Temu Rasa [Completed]
  • Avontur
  • SEMESTA TAK AKAN MEMBENCI KITA YANG PERGI
  • Pulau Luka, Lautan Janji •||• Park Jeongwoo
  • ALEYA~~
  • Tuhan Cinta Kita

TERSEDIA JUGA DI GOODNOVEL DENGAN JUDUL MUNAJAT PERAWAN TUA "Untuk apa kamu cemas? Apa putrimu terlibat masalah?,"tanyaku. "Apa aku harus mengatakan dengan jelas? Apa menurutmu sekalipun kamu tidak peduli dengan sekitar tidak akan ada yang peduli denganmu?,"tanya Dirga membuatku mengambil tangannya. "Terima kasih sudah membantu. Aku berhutang budi padamu,"ucapku enggan berkilah. "Jangan mengatakan hutang budi, jika kamu tidak mau membayar,"ucap Dirga. "Kalau begitu katakan. Apa yang bisa ku lakukan untuk membayarnya?,"tanyaku. "Menikahlah dengan ku,"ucap Dirga membuatku melepaskan tangannya. "Apa kamu sudah gila? Kamu pria yang sudah menikah, Dirga. Kamu terlalu jauh,"ucapku memalingkan wajah. "Tapi aku duda,"skak Dirga membuat wajahku pucat seketika. -&- Setiap knot kecepatan melaju menembus Cakrawala, sejauh itu cinta yang ku tinggalkan di setiap jejak awan. Saat roda-roda pesawat tidak lagi menapak di ujung landasan, tersisa lah keikhlasan menerima semua takdir. Berpangku pada bait ayat Allah yang terus terlantun merdu. Tingginya langit yang bisa ku tembus tidak membuatku sedekat sujud di penghujung sajadah. Jika serdadu hanya bisa mematahkan senapan di ujung pertempuran dan cendekiawan yang saling beradu argumen di atas meja mematahkan kebingungan. Lantas apakah tidak mungkin meminta Pencipta ku mematahkan takdir yang menjerat? Update seminggu 2 kali😁

More details
WpActionLinkContent Guidelines