Kupu-Kupu Merah Muda

Kupu-Kupu Merah Muda

  • WpView
    Reads 193
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 20, 2022
Setelah menerima lamaran dari seorang pria yang sangat mencintainya apa adanya dan memiliki kehidupan yang baik untuknya dan keluarganya, seorang perempuan yang berusia 22 tahun menghubungi seseorang yang pernah hadir di dalam kehidupan remajanya. Dia adalah cinta pertama dari perempuan tersebut. Laki-laki tersebut adalah satu-satunya yang dicintai oleh perempuan tersebut. "Halo!" Rio "Ini aku.. Cherry. Hari ini aku membuat keputusan besar dalam hidupku. Aku nggak tahu ini benar atau enggak, tapi.. ini yang terbaik untuk semuanya. Dulu.. kita nggak pernah melakukan dua hal ini. Aku mendengarkan cerita mu, dan aku cerita ke kamu.. cerita tentang apapun. Dulu.. kita hanya bermain seperti, anak kecil. Berlari di dalam kelas ataupun di taman depan kelas, tapi.. hal itu sangat menyenangkan. Io.. ada satu pertanyaan yang aku ingin tanyakan. Apa.. Apa kamu pernah suka aku?" Cherry "Kalau.. kamu dan aku bertemu pertama kali saat kita dewasa, apakah kita bisa bersama dan tidak merasakan rasa sakit ini?"
All Rights Reserved
#203
tangis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • You Are My Destiny
  • GRIZLEN {On Going}
  • DEAR LOVE
  • Semu [Completed]
  • Fall Into Your Charm
  • Rannia√
  • Sudah Terlambat ☑️
  • Jejak Hati di Persimpangan Takdir
  • My Perfect BoyFriend

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines