Sinopsis:
Kisah seorang cewek bernama Ellena yang sering jadi korban php, gampang baper dan suka di halusin sama cowok-cowok di sekolahnya. Padahal mimpinya sederhana; cuma pengen punya pacar yang ganteng, tajir, baik, keren, bertanggung jawab, dan nggak gatel. Sederhana, ye gak. Tapi gimana mau punya pacar? Di saat Ellena bukanlah seseorang yg beken di SMA Januar, dia cuma cewek biasa yang hidup dan nafasnya gak di perduliin orang lain. Mana dia orangnya gengsian lagi.
Sampai akhirnya, dia melihat punggung tegap Gian. Cowok yang pas latihan di lapangan, bola basketnya kegetok kepala Ellena.
Segala sesuatu tentang Gian terlalu menarik, bahkan sampai hal-hal kecil seperti kebiasaan Gian yang suka nyemilin permen susu yang ada tangkainya.
Banyak hal tak terduga yang terjadi dalam hidup Ellena, termasuk kisah cinta terlarang yang membuat hampir seluruhan hidupnya hancur. Serampangan. Tapi, Gian ada di sana. Menunjukkan Ellena dimana letak bintang ketika awan hitam menenggelamkan langit.
Ini tentang Shaila, yang mengalami gangguan kesehatan mental dan berulang kali mencoba bunuh diri. Shaila suka membuat onar, melemparkan kalimat menyakitkan, lalu bersikap seolah tak ingat apa-apa. Hingga suatu hari ia mengalami teror mengerikan dan sejak saat itu kenangan buruk di masa lalunya terus berputar seperti kaset rusak.
Kenali juga, Caramel, yang selalu disalahkan dan dibandingkan. Diam-diam Caramel gemar merokok bahkan mengonsumsi alkohol. Diam-diam juga, Caramel sangat takut pada keramaian.
Kalian pun akan bertemu Fathia, yang selalu mengenakan masker karena rasa tak percaya diri dengan wajahnya yang berjerawat. Sering mencintai dengan tulus, tapi tak pernah dicintai kembali dengan tulus.
Terakhir, Eveline, yang selalu dijadikan bahan lelucon karena tubuhnya besar. Hingga jatuh hati pada seorang lelaki dingin dan penggila game membuat Eveline bertekad untuk merubah dirinya.
Setiap orang memiliki rahasia yang tak boleh diketahui dunia, kenangan buruk yang tak mau diingat dan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Jadi ... topeng apa yang mereka gunakan untuk menutupi masalah? Jika topeng itu hancur, mana yang mereka pilih; menyatukan kembali puing-puing topeng dan tak memberi jeda untuk menangis atau menyerah karena kalah dalam kepura-puraan?