My Dear (Boy) Friend

My Dear (Boy) Friend

  • WpView
    Reads 340
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 15, 2016
Sewaktu masih kecil Jeslin dan Lando adalah sahabat yang saling bertolak belakang, dimana Jeslin kecil adalah seorang gadis cantik, baik, dan penurut akan setiap perkataan neneknya, sedangkan Lando adalah anak yang nakal dan sering membuat gaduh. Suatu ketika orang tua Jeslin kembali dari luar negeri dan membawa Jeslin untuk tinggal bersama dengan mereka di Jakarta, Lando yang sahabat Jeslin bukannya sedih malah merasa senang "Akhirnya gue bisa bebas dari si bawel itu". Tiga tahun berlalu dan tiba-tiba ayah Lando mendapat proyek yang mengharuskan mereka untuk pindah di Jakarta, sebelum Lando pamit pada nenek Jeslin yang sudah tua, neneknya sempat meminta tolong kepada Lando untuk menyuruh Jeslin menemui neneknya karena sudah 3 tahun ia tidak berkunjung ke rumah neneknya, Lando pun setuju, dan dia juga merasa rindu pada sahabat masa kecilnya yang dia anggap bawel itu. Kira-kira bagaimana keadaan Jeslin saat ini ya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raffi & Maya
  • MY SWEET DUDA
  • Dermaga bagi Hati yang Karam || Naline
  • sebenci itu??
  • Red Velvet & Sunrise
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • Transmigration : Aluna Side Story
  • ANDERRA JISKAR

Tahun 1996. Maya, seorang siswi pindahan dari Bandung, terpaksa mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan ke Jakarta. Ia tidak terlalu suka perubahan, apalagi harus beradaptasi di sekolah baru. Maya bukan tipe anak yang suka cari perhatian. Ia lebih suka menyendiri dengan walkman kesayangannya, mendengarkan lagu-lagu Nike Ardilla atau Sheila on 7 yang sedang hits saat itu. Namun, semua berubah saat ia bertemu Rafi-cowok paling karismatik di sekolah. Rafi bukan anak nakal, tapi dia punya aura yang membuat semua orang terpikat. Gaya rambut belah tengahnya yang khas, jaket jins yang selalu melekat, dan cara bicaranya yang santai tapi tajam membuatnya terlihat berbeda. Dia bukan ketua geng motor atau siswa berprestasi, tapi entah kenapa, semua orang menyukainya. Sejak pertemuan pertama, Rafi sudah tertarik pada Maya. Bukan karena Maya cantik atau pintar, tapi karena Maya tidak seperti cewek-cewek lain yang terpesona padanya. Maya terlalu cuek, terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Dan bagi Rafi, itu justru menarik. Mulailah perjalanan cinta mereka yang penuh kejutan. Rafi punya cara unik untuk mendekati Maya-dengan surat-surat berisi teka-teki, kaset lagu yang liriknya selalu punya makna tersembunyi, dan ajakan-ajakannya yang sering kali tidak masuk akal tapi justru membuat Maya tersenyum. Dari obrolan di kantin sambil makan mi instan, curi-curi waktu untuk ngobrol di telepon rumah dengan batasan tiga dering supaya tidak ketahuan orang tua, hingga naik sepeda bersama di sore hari, kisah mereka dipenuhi dengan momen-momen manis dan jenaka. Namun, cinta di era 90-an tidak selalu mulus. Ada geng cewek yang tidak suka melihat Maya dekat dengan Rafi. Ada sahabat lama Rafi yang ternyata menyimpan perasaan untuknya. Ada ujian akhir yang membuat mereka harus lebih serius dengan masa depan. Di antara semua itu, Maya dan Rafi belajar satu hal: bahwa cinta tidak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata manis.

More details
WpActionLinkContent Guidelines