Thank You, Vallen.

Thank You, Vallen.

  • WpView
    LETTURE 112
  • WpVote
    Voti 4
  • WpPart
    Parti 1
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione dom, set 4, 2016
Kekuatan itu perlahan meluntur. Semakin di genggam erat, semakin hati meronta-ronta ingin mengeluarkan semuanya. Semakin bertahan, semakin sulit situasi. Jika ia membongkar semuanya maka hancurlah kekuatannya, jika ia menyimpannya dalam-dalam maka semakin banyak kebohongan yang terpendam dan semakin banyak orang-orang yang tersakiti tanpa mereka sadari. Kekuatan itu adalah kedua orang tuanya. Sheby tidak pernah menyangka jika Papanya telah melakukan hal yang paling ia benci---berkhianat. Jika Sheby menyimpan kebohongan maka semakin banyak kebohongan yang di susun rapi oleh Papa, jika Sheby memberi tahu semua tentang Papanya maka hancur sudah keluarga yang selama ini menjadi kekuatannya. Kita akan lihat di salah satu chapter ini, keputusan apa yang akan Sheby ambil. Cerita ini bukan hanya tentang kebohongan, pengkhianatan, keruntuhan keluarga. Namun, juga menceritakan tentang seseorang yang selalu ada di dalam masa-masa tersulit. Published; Sunday, 4 September 2016 [16:45]
Tutti i diritti riservati
#131
deep
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Benalu [Terbit]
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • Dua Sisi
  • KHALILA AND OTHERS
  • LOVE in SILENCE
  • Om, Ayo Nikah!
  • Full Of Scratches
  • Paradise
  • LIKE A FOOL

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti