Mentari Di Ufuk Timur

Mentari Di Ufuk Timur

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Aug 8, 2016
Embun pagi masih membasahi daun-daun pohon paku yang mulai membuka perlahan. Sinar mentari amat manis sekali menyambut pagi ini. Kicauan burung menyambut ku ketika satu langkah kaki ku keluar dari pintu rumah tua ini. Tarikan nafas perlahan beriringan dengan harapan baru yang telah membumbung tinggi di kepalaku. Aku yakin hari ini akan ada kabar baik yang akan aku terima. Melihat sejenak jam yang bertengger di dinding, oh ternyata pukul 5.30 pagi, sepuluh menit lebih awal dari yang aku rencanakan. Segera ku ambil tas penuh dokumen yang sudah ku persiapkan sejak beberapa minggu lalu. Pagi ini aku memulainya dengan doa dan harapan. Mata ku menatap dengan pasti tas yang berisi berbagai dokumen yang kini sudah ada di bahuku. Sepeda dari ayah ini yang akan mengantarkan pada kesuksesan ku- yakin ku. "Ayah, aku yakin aku akan berhasil kali ini". Ku kayuh pedal sepeda perlahan namun pasti, melihat beberapa orang keluar dari musholah usai melaksanakan solat subuh dan mendengarkan kultum.
All Rights Reserved
#720
baca
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DIALOG SINGKAT
  • Jodoh Dari Allah [ Terbit ]
  • A DIARY OF "I AM HEAL"
  • Saya Mencintaimu Karena Allah [Sudah Terbit]
  • I am Your Eyes [SUDAH TERBIT]
  • My Sweet Polar Husband [End]
  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja

Dalam hatinya dia berkata bahwa Tak apalah. Ini jauh lebih baik daripada hidup di dunia penuh dengan ketidakpastian. Ketika dia sudah khusyuk dengan kehampaan tersebut. Ada Suara kecil menggelitiki telinganya. Perlahan suara itu mulai terdengar jelas. Tempo suara itu mulai cepat dan volumenya meninggi dan terus meninggi. Sampai pada jeda tertentu, mulai terdengar suara kokok ayam. Sekejap dia kaget membuka mata dengan pandangan kabur. Dia mengedipkan matanya beberapa kali sampai pandangannya terlihat jelas. Terlihat dinding bercat kuning pudar dengan stiker tempel bertulis Bangunlah. Ibumu tidak melahirkanmu untuk jadi pecundang. Namaku Budi, selama awal KKN di sini, pergolakan dan situasi aneh sering menimpaku. hanya satu hal yang menurutku tidak aneh, perasaanku terhadapnya benar-benar nyata.

More details
WpActionLinkContent Guidelines