Te Amo
  • WpView
    Reads 316
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 10, 2016
Tadinya , musim panas selalu muram. Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah , ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat dari matanya. Entah bagaimana, hati Felicia begitu dingin ketika menepis uluran tangan laki-laki itu. Kesepian pun menghantamnya. Sepanjang jalan , angin menepi. Sayap-sayapnya membawa Felicia menari di antara indahnya sepanang jalan yang sunyi. Membangkitkan rindu kepadanya , seperti ombak kepada pantai yang menunggu. Maka, di sinilah Felicia berada kini. Menyambut genggaman tangannya. Ketika matahari menyinari London. Dia bagai musim panas yang begitu indah. "Te amo," pelan ucap Felicia. Akankah dia dengar
All Rights Reserved
#854
iloveyou
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Awan Abu-Abu [END]
  • Cold Girl (End)
  • Exodus
  • Ketika Cinta Tak Lagi Gratis ❤️ ON GOING ❤️
  • RINDU DI PENGHUJUNG SENJA
  • Shivviness[END]
  • Flat Heart
  • Travelling Love [Selesai]
  • In The Summer Night
  • PESAN UNTUK RAYAN

Sinar rembulan memang lebih indah daripada harta yang gemilang. Uang memang bisa membeli apa yang diinginkan. Akan tetapi, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Jalan halus yang penuh dengan gelombang, terus dilewati meski ada rasa bimbang. Akankah matahari memancarkan cahaya kehangatannya? Akankah bulan bersinar menerangi gelapnya dunia? Akankah bintang-bintang bermunculan menemani kegelapan di atas keheningan yang ada? Atau hanya awan hitam yang menghampiri, tanpa adanya seseorang yang menemani? "Dulu ... kita pernah sedekat amplop dan perangko, semesra pena dan kertas. Namun kini, 'tak jauh berbeda dengan bulan dan bintang. Terlihat berdekatan, namun 'tak dapat bersatu." - Georgino Arkana Putra "Lo bilang senja itu hal yang paling indah. Nyatanya dia malah menjadi saksi dari akhir kisah kita." - Neyara Abigail Gueni

More details
WpActionLinkContent Guidelines