OBROLAN DI CAFE ITU

OBROLAN DI CAFE ITU

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 18, 2016
Bukan semata-mata untuk selembar ijazah aku melakukan ini, tapi aku sadar tangan ini harus bertindak. Kutahu tanah airku sudah merdeka dari penjajah sebelum aku dilahirkan. Tapi nyatanya, negaraku masih dijajah kebodohan dan kemiskinan. Negaraku dijajah oleh warga negaranya sendiri yang bermalas-malasan. Negara yang kubanggakan ini dinodai oleh para tikus berdasi. Para cendekiawan yang menggunakan kepintarannya untuk membodohi negaranya sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 𝐀𝐤𝐮 (bukan) 𝐒𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐍𝐲𝐚𝐢  [END]
  • Perjodohan (Zeesha)
  • BAD Kepala Sekolah
  • Cinta Yang Tak Berujung
  • Embun Pagi
  • Bang itchy (19+). END!
  • waktu tak sama [HIATUS]
  • Home?
  • my brother is a superhero
  • MY ONLY ONE-kaisagi

Kebencianku terhadap bangsa Belanda telah mengakar sejak jiwa ini lahir di atas tanah jajahan, sebagai kaum golongan terbawah berstatus budak di negeri sendiri. Kemiskinan adalah hal lumrah. Kelaparan merajalela saban hari. Tubuh-tubuh kurus lelaki pribumi berbajukan kain goni berkebalikan dengan Tuan-Tuan Eropa murni. Bukan tanpa alasan pendatang kulit putih itu di benci masyarakat, mereka memonopoli kekayaan tanah Nusantara, membawanya ke Eropa untuk membangun kejayaan negeri Belanda. Adapun, para Londo itu memperlakukan kami dengan sangat buruk. Hingga hari itu merubah segalanya... Bagai menjilat ludah sendiri, aku terjerat dalam pesona seorang perwira Belanda. [ 𝐇𝐢𝐜𝐭𝐨𝐫𝐢𝐜𝐚𝐥 - 𝐅𝐢𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧 ] -Cerita sudah terbit dan MASIH LENGKAP. versi cetak lebih panjang

More details
WpActionLinkContent Guidelines