Henry & Alesha

Henry & Alesha

  • WpView
    Reads 306
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 1, 2017
WpInfo
Fiction
Horror
"broer(kakak) aku bisa terbang ! semuanya terasa ringan aku seperti peri tapi kenapa kakiku tidak nampak?"pekik Alesha Hendrick stuck adalah seorang ayah dan juga seorang dokter pemerintah netherland, dia utus untuk pergi ke Hindia Belanda untuk membantu orang -orang yang terluka di medan perang suatu hari Alesha anak bungsunya mengalami kecelakaan saat bermain dihalaman rumah barunya akibat ulah kakaknya sendiri Henry semenjak itu anak sulung mereka Henry bertingkah laku aneh dia seakan akan selalu bersama adiknya yang sudah meninggal,dia sering bermain sendiri,berbicara ke tembok dan pohon serta mendorong tali ayunan tanpa seseorangpun duduk diatas papannya Alesha! kau nakal !
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • The Blood
  • My Brother[Sequel Mianhae My Brother]
  • PETAKA
  • Derena
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Desir Arah
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • Alenara; Living in a Fairy Tale
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines