My Planned Destiny

My Planned Destiny

  • WpView
    OKUNANLAR 70,979
  • WpVote
    Oylar 1,435
  • WpPart
    Bölümler 12
WpMetadataReadDevam ediyor
WpMetadataNoticeSon yayınlanan Paz, May 19, 2024
Kisah klasik perjodohan Agatha memang tidak pernah terbayang akan menikah muda sebelumnya, segala kebahagiaan yang dia miliki saat ini sudah lebih dari cukup. Menikah muda tidak ada dalam list goals yang ia miliki, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya. Sedangkan Aditya, laki-laki itu lebih dari cukup untuk menjalin hubungan pernikahan. Namun, banyak trauma, pikiran, ketakutan yang menghantuinya. belum lagi tuntutan keluarga yang terus mendesaknya untuk segera mendapatkan seorang istri. Lalu bagaimana dengan perjodohan mereka? Apakah mengalah dengan keadaan lalu menjalankan tanpa paksaan, atau malah melawan takdir yang sudah direncanakan? Sebuah takdir yang direncanakan pun perlu sosok yang mau berperan dalam takdir tersebut. Merupakan karya Tugas Akhir dari Mahasiswa Penerbitan.
Tüm hakları saklıdır
#103
adit
WpChevronRight
En büyük hikaye anlatıcılığı topluluğuna katılınKişiselleştirilmiş hikaye önerileri alın, favorilerinizi kütüphanenize kaydedin ve topluluğunuzu büyütmek için yorum yapın ve oy verin.
Illustration

Ayrıca sevebilecekleriniz

  • Prenuptial Agreement
  • MARRIED WITH KETOS DINGIN
  • Perjodohan Romantis (season 2) # Complete
  • HATE OR LOVE
  • Orang Biasa
  • Nikah Muda (Sudah Tamat)
  • Gus Alfathar (SUDAH TERBIT)
  • Bisakah Aku Bahagia? (END)
  • Aldzi & Azifa 2 | Nikah kuliah (END)✔️

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

Daha fazla bilgi
WpActionLinkİçerik Rehberi