Mistakes

Mistakes

  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Fri, Oct 6, 2017
Sedetik ia berpikir untuk lari dari lahapan merah panas itu, matanya bergerak cepat mencari celah, tapi tak kunjung muncul. Sekelabat penyesalan muncul. Ia tidak ingin mati. Ia ingin meminta maaf. . Sebuah cerita singkat. Tentang seseorang yang bersalah. Namun butuh waktu untuk tersadar. Tentang ia yang sempurna tapi kali ini dengan goresan. Tentang Cinderella namun berdarah. Nama mereka bisa sama, tapi cerita mereka berbeda. Terinspirasi dari kisah Cinderella yang menghilang pada tengah malam. -Mars, Hunmiles.
All Rights Reserved
#250
fairytale
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • Secret Love Story "Unspeakable Love" (Complete)
  • BUNGA KEMBALI
  • Seberkas Rindu
  • Where am I?
  • Kaila's Choice: Stay Or Move On?
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines