Memory In Love

Memory In Love

  • WpView
    Reads 522
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Fri, Mar 23, 2018
Haii ini salah satu karya saya yang pertama jadi jika terjadi kesalahan dalam cerita mohon dimaklumi,,, semoga kalian suka dengan karya ku Happy Reading Ringkasan Disini gw mau cerita tentang kisah cinta gw "Davina Veronica Widya" murid baru dari Jakarta ia pindah karena bokap gw mempunyai pekerjaan di Bandung walau pun gw betah di Jakarta tapi mau harus gimana lagi klo udh keinginan nyokap & bokap gw **** "Aduuh "seketika gw jatoh lagi karena masih sakit kaki gw Tiba tiba ada cowo bantuin gw berdiri tapi entah siapa karena dia memakai masker "Sini gw bantu!! "Ucap cowo itu sambil ngulurin tangannya ke gw "Eh Iyya makasih ya "sambil gw bales jabatan tangan itu "Masih sakit ga ??" Ucap cowo baik itu " paling nyeri dikit doang sih tapi gapapa kok sebelum nya makasih ya" ucap gw agak senyum senyum kecil "Yaudah kalo gitu gw duluan yaa" ucap cowo itu dengan jalannya yang cool "Iyya yaudah makasih ya sekali lagi" ucap gw senyum senyum kecil **** Mau tau kisah selengkapnya nya baca aja biar ga penasaran #copy picture
All Rights Reserved
#21
keistimewaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • ALVIN (On Going)
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • BAD GIRL
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
  • Fall And Love
  • Davin
  • Love Affair : My Destiny
  • kiara's dream
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines