1001 Celoteh Tentang Puisi

1001 Celoteh Tentang Puisi

  • WpView
    Reads 5,189
  • WpVote
    Votes 107
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 25, 2017
Membicarakan puisi tidak akan ada habisnya. Selama kata-kata tidak hanya cukup untuk sekadar berkata saat itulah puisi akan hadir sebagai sebuah jalan lain mengungkapkan sesuatu. Desah angin adalah puisi, gemericik air adalah puisi, helai napas adalah puisi, semua yang ada dan tiada adalah puisi. Dari waktu ke waktu, perkembangan puisi semakin liar saja. Kehadiran puisi digital misalnya, membuat puisi tak lagi menjadi sesuatu yang susah ditemui. Berbagai kemudahan menikmati puisi dengan media sosial adalah salah satu perubahan yang mencolok beberapa tahun terakhir. Namun demikian, puisi tetaplah puisi, terlepas dimana dan darimana dia terlahir. Puisi seolah hadir dalam setiap situasi, politik, ekonomi, sosial, agama, dan seluruh aspek kehidupan. Hal ini semacam virus yang menjangkiti seluruh kalangan masyarakat, dari yang kaya sampai miskin, yang sarjana hingga tukang becak pun tak lepas dari "kejahilan" puisi yang melukiskan mereka dengan kanvas yang rasanya tidak akan pernah kering. Berbagai polemik di negeri ini misalnya, tak juga luput dari mata tajam para penyair yang akhirnya menelurkannya menjadi sebuah puisi "pemberontakan" semacam puisi-puisi Wijhi Thukul. Perkembangan puisi tentu tak lepas dari pro-kontra. Pro-kontra ini jugalah yang mau tidak mau terkadang menjadikan puisi dan penyair sebagai sasaran empuk "bualan-bualan" yang akademis. Esai-esai tentang puisi semakin banyak dan beranak-pinak. Oleh sebab itulah penulis juga tak ingin ketinggalan untuk membuat celoteh-celoteh tentang puisi bertajuk "1001 Celoteh Tentang Puisi". Mengingat penulis bukan dari golongan sarjana sastra, apalagi masuk dalam buku "33 Sastrawan Paling Berpengaruh" yang kontroversial itu, maka penulis sangat menyadari masih dangkalnya uraian-uraian yang akan disampaikan. Meski demikian, rasanya bukan menjadi alasan untuk tidak menuliskannya. Selamat memperkosa puisi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DANGEROUS GABRIEL | Perjodohan (Complete)
  • Aksara Tak Bertuan
  • Batas-Batas Eksistensialisme
  • mr.bean Ibrahim  End|
  • Goresan Pena
  • Horibble Woman (END)
  • Naracia teneresia TAMAT
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • My Cold Husband [COMPLETED]
  • ON SIGHT (Completed)

[PRIVAT ACAK! FOLLOW DULU SEBELUM BACA! ] 18+ (MENGANDUNG KATA KASAR, UMPATAN, KEUWUAN, SCENE KISS, SCENE HUG) - Mungkin sebagian manusia akan senang jika mendengar kata 'Menikah'. Tapi tidak untuk Gabriel Nicholas, si ketua Cruel Geng. "Gak usah berharap lebih, gue nikahin lo cuma karena terpaksa!" Bentak nya pada sang istri, Alea Puteri. Semakin hari rasa benci itu semakin nyata hingga di mana perasaan dan naluri manusia berkehendak, yaitu mencintai seseorang yang sudah terbiasa bersama meski rasa sakit di balik kebersamaan itu. Gabriel jatuh cinta pada Alea. Mungkin ungkapan kata 'Kekuatan Cinta' pantas untuk cerita Gabriel yang awalnya tak mencintai Alea. Cowok yang dulu selalu emosian, galak, dan egois pada Alea kini menjadi cowok manja, posesif dan alay. "Sebelum tidur alangkah baik nya kamu peluk aku dulu. Supaya mimpi indah datang karena habis di peluk sama bidadari berhati Dandelion," Ucap cowok itu sambil memeluk tubuh mungil istri nya. Namun keinginan cinta nya harus kandas oleh kenyataan hidup nya. Ibarat jalan yang lurus namun penuh kerikil. Cerita Gabriel tak semulus wajah bayi. Ada saja kerikil kecil dan besar yang menghampiri bahtera rumah tangan nya. Lalu bagaiamana kah Gabriel menjalani cerita nya? Apakah ia akan berjuang untuk cinta nya atau kenyataan hidup nya? - - Bukan hasil JIPLAKAN! Hargai para Author dengan memberi vote dan Komentar!!! Notes : Cover by Pinterest 🏅#1 in fiksi (05/05/22) 🏅#1 in puisi(28/06/22)

More details
WpActionLinkContent Guidelines