Stay With Me! ✔

Stay With Me! ✔

  • WpView
    Membaca 186,976
  • WpVote
    Vote 9,379
  • WpPart
    Bab 32
WpMetadataReadLengkap Jum, Mar 17, 2017
WpInfo
Fiksi
Romansa
[TAMAT] "Denger ya, kamu harus tetep sama aku terus, sampai kapan pun. Aku nggak mau kehilangan kamu, aku nggak bisa jauh dari kamu, Kay. Cuman kamu yang bisa bikin aku lebih baik kaya sekarang. Kamu juga yang udah bikin aku seneng. Walau awalnya aku sebel sama kamu, tapi aku bakal setia ko sama kamu. Aku janji." Kata Livas sambil menggenggam kedua tangan Kay dan menatap matanya. "Hahaha..kamu ko jadi alay gini sih Vas? Ngakak dah aku dengernya" kata Kay sambil tertawa. "Tapi, aku juga nggak mau kehilangan kamu, Vas. Aku juga sayang sama kamu. Aku pegang janji kamu ya, kamu jangan pernah mengingkari janji itu,okee?" lanjutnya. ~sedang revisi~ #227 in Teen Fiction (2-10-17) & (3-11-2017) Copyrights©2017 - All Rights Reserved.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#85
wcaindonesia
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Lean On Me [END]
  • NADIRAEFAL
  • Penantian
  • Better Person ✔
  • ketika senja menyapa
  • ||Perjodohan||✓
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • I'm (Not) A Bad Girl
  • Strong Girl Michella (END)

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan