Between Human And Shadow

Between Human And Shadow

  • WpView
    Reads 216
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 12, 2016
Sejak dulu manusia hidup berpindah-pindah atau nomaden. Hingga pada akhirnya mereka menemukan tempat yang sangat nyaman yaitu di dekat tebing yang sangat tinggi dan besar. Bahkan tebing itu menyebabkan desa tersebut tidak pernah terkena matahari. Ada beberapa orang yang memutuskan untuk pindah tidak jauh dari situ hanya untuk mendapatkan matahari yang cukup. Hal itupun menyebabkan banyak perpecahan. Ada 4 orang siswa yang sudah lama hidup dibalik tebing tetapi memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke desa di balik tebing. Berikut ini adalah kisah perjuangan mereka untuk bersosialiasi dengan lingkungan barunya dan dengan perasaan mereka masing-masing yang tumbuh seiring bertambahnya usia.
All Rights Reserved
#499
fantasyromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • Viva La Vida
  • Taste Of Love
  • Tinggal Dalam Matahari (Part 1-200)
  • Tentang Kita
  • Life Script
  • THE NAIAD (transmigrasi) {END}
  • Silent Obsession
  • figuran tranmigrasi (ON GOING)

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines