We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Kosong
  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Thu, Oct 6, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Kuperlihatkan ruang ini padamu. Ruang sederhana yang hanya berhiaskan jendela, meja kecil, sepasang kursi yang saling berhadapan, dan vas bunga kecil yang bunganya mengarah pada arah datangnya sinar. Tak mewah, tak indah, dan tak bermakna. Namun ketahuilah, di sini aku selalu bermain dengan hangat, dingin, dan perihnya perasaanku. Perasaan yang membuat mata ini sulit berkedip karna bendungan air mata, bibir yang sulit berucap karna membisu, lidah yang kelu karna tercekat, desir darah yang mengalir deras karna kehangatan kata, dan jiwa yang gelisah karna kelembutan tingkah. . . . Ini cerpen tugas proyeksi di sekolah. Harap maklum dengan hasilnya. From friends to lovers, ongoing ya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Rain Drops ( On Going )
  • Ketua Kelas VS Perusuh Kelas [Telah Terbit]
  • My Senior is My Coldest BoyFriend [Chapter 1 Completed+ Revisi]
  • The Past
  • NAYLA [SLAW UPDATE]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • My Enemy Ayna
  • Ketua Kelas

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines