We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
The Hero!!
  • WpView
    Reads 53
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 8, 2016
WpInfo
Fiction
Fantasy
Rio Renanda, seorang pemuda yang baru saja memasuki masa SMA nya. Tidak terlalu banyak hal yang berkesan baginya, bahkan serasa tidak ada. Di kejadiannya, kebaikan yang ia lakukan entah kenapa tidak diketahui orang. Sehingga kebaikannya berujung ke pemahaman yang salah. Kebiasaan barunya setelah masuk SMA, yaitu duduk di bangku atap sekolah setiap pulang sekolah. Bersama sahabatnya, Reza, setiap pagi menuju ke sekolah. Sifatnya yang sedikit melenceng dari jiwa pria menurut Rio, membuatnya tidak memiliki sifat kejantanan, menurut Rio lagi. Walau jarang saling berbicara, namun hal itulah yang membuat mereka selalu dekat. Walau dapat dikata Rio adalah seorang pendiam, namun kehidupannya dapat dibilang berubah sedikit demi sedikit setelah perjumpaannya dengan gadis yang belum pernah ia jumpai. 1 hal juga yang dapat membuat seorang pendiam menjadi aktif, yaitu kecoa. Di sisi lain kesadaran Rio, tengah terjadi perang antara umat manusia dengan para monster kecoa yang menginvasi bumi. ---------------------------------------------------- Bagaimanakah kelanjutan antara kehidupan nyata dengan kehidupan mimpi Rio?
All Rights Reserved
#7
silent
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • Unpredictable Love
  • Viva La Vida
  • IDOL [TAMAT]
  • I LO(lea)VE YOU! [COMPLETED]
  • ALATAS
  • Satu Atap, Satu Hati
  • Dreamers [on-going + revisi]
  • Harapan

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines