Skyscraper

Skyscraper

  • WpView
    Reads 183
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 22, 2016
Caroline Shrwesbury Caroline Shwesbury atau biasa dipanggil Lady Carol oleh semua orang ini hanya seorang gadis introvert yang sangat mandiri. Dia menyukai hidupnya yang terbilang flat di kalangan remaja lainnya. Dia tidak hobby menghamburkan uang seperti kakaknya-Catherine Shrwesbury-, dia hanya mau menghabiskan uang jika sudah berada di Cafe cake langganannya. Carol memang suka pergi ke tempat yang terbilang sangat biasa, bahkan hanya dua pengawalnya saja yang mengetahui keseharian Carol jika dia sudah membolos sekolah. Adrian Chaiden Laki-laki sederhana yang memiliki passion tinggi. Dia akan berusaha dengan keras demi mewujudkan mimpinya. Tidak perduli betapa sulitnya rintangan yang harus ia hadapi, ia akan terus maju untuk smewujudkan mimpinya. Dimulai dari menerima penolakan dari keluarga sampai harus hidup sendiri demi mewujudkan mimpinya. Mottonya yaitu "semakin sulit mimpi itu untuk dicapai maka kepuasan yang didapat saat berhasil meraih mimpi itu akan semakin memuaskan".
All Rights Reserved
#147
photography
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Halcyon
  • Satu Atap, Satu Hati
  • SATU RAGA SERIBU LUKA |
  • Karakter Sampingan (Haechan)
  • Perihal Sandwich(End)
  • ARTERI (A1- ARKA)
  • KANARA [COMPLETED]

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines