The Violin [3/5]

The Violin [3/5]

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 8, 2017
"Dan baru ketiga kalinya gue berani buat, yah lo tahu lah! Dan itupun lo ngira gue sebagai penguntit lah, perampok lah! Dan hari itu juga gue bersyukur bisa kenalan sama cewek baik kaya lo Vio!" hhh! Rasanya jantungku mau copot. Tapi, dengan begini aku merasa lega. Aku meraih kedua tangan mungil Vio. Ia masih tidak berkata apa-apa. Wajahnya pun masih terlihat bingung. "Jadi, Violina.. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu sejak pertama aku ngelihat kamu. So, would you be mine?" Halo... Aku balik dengan cerita pendek yang absurd ini, hoho! Mau tahu kelanjutan Jeremy sama Violina, pengamen biola? Baca yuk, kasih feedback juga ya.. Xoxo,
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Untold Word
  • Ku Kira Kita Searah
  • Archibald: The Star, The Fire & The Shadow
  • Jangan Pergi, Ayi
  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Credence/kepercayaan (Baekmin)
  • Obsession (End)
  • Psychopat [SELESAI]
  • My Wedding Story
  • Kapal Kertas

Jinki telah menyiapkan bunga yang ditanam dan ditata sehingga membentuk namaku, Goo Minji. Indah sekali. Ini adalah hadiah terindah yang jinki berikan kepadaku. "Kau menyukainya, jagiya?" katanya masih memelukku. "Ne tentu saja. Jeongmal gomawo." kataku padanya. "aku yang harus berterima kasih." "Anni. kau sudah mau menemaniku 2 tahun ini. Gomawo jagi." tiba-tiba jinki meneteskan air mata. "mungkin ini terakhir kali aku menemuimu. Terima kasih atas 2 tahunnya. aku akan melupakanmu. "Panggil saja Minho-ya." katanya seraya lagi-lagi tersenyum. Kali ini aku benar-benar terpesona dengannya. Ternyata Minho yang kukira begitu dingin bisa tersenyum hangat kepadaku. "Jangan meremehkan penyakit seperti itu." "Ne. Aku sudah mengubungi eommonim dan aboeji, tapi sayangnya mereka sedang pergi ke Taiwan. Mereka akan segera kesini jika mereka kembali. Mereka sangat sibuk." jelas Minho panjang lebar. Minho tertawa. Baru kali ini juga aku benar-benar melihatnya tertawa. "Ya! Kenapa?" kataku pada Minho yang masih tertawa. "Sebegitu dinginnyakah aku selama ini?" tanyanya polos. Tentu saja jawabannya adalah YA!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines