COWOK PHOBIA

COWOK PHOBIA

  • WpView
    Reads 3,784
  • WpVote
    Votes 177
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 16, 2016
(Complete) "Astaga Mamah!!" Seruku tak percaya. Langsung ku dobrak pintu kamar Mamah hingga terbuka lebar. Ku lihat Mamah di dalam selimut dengan anak muda sebayaku. Bahkan anak muda itu aku sangat mengenalnya, dan dia sering ku lihat. "Brengsek kalian !!" Kataku marah. Dengan celana pendeknya dan bertelanjang dada Leon langsung bangun dari tempat tidur, wajahnya tetap terlihat santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. "Rei apa-apaan sih kamu ini, masuk kamar Mamah enggak ketok dulu!" Mamah kaget menatapku sambil marah. Aku tetap diam tanpa berkomentar apa-apa dan tetap tertuju mengamati Mamah dan Leon. Rasa benci di hatiku makin memuncak, amarahku menggebu-gebu. Ku dekati Leon dan ku tinju sekuat tenaga wajahnya hingga darah mengalir dari ujung bibirnya.
All Rights Reserved
#960
life
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • FIZYA
  • CLOSER
  • Intentional Accident [Completed]
  • NOISY SOUL [Ongoing]
  • All My Fault✔
  • Don't Leave Me (TAMAT)
  • about us and him ✔️
  • I PROMISE
  • TFSeries#1 | Dandelion Of Venandra

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines