Tetesan Bulir Sajak

Tetesan Bulir Sajak

  • WpView
    Reads 932
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 30, 2016
WpInfo
Poetry
Sajak dan puisi yang banyak orang tahu saat ini mulai redup tak menjamur seperti 1 abad lalu. Kata yang diuntai indah tak lagi sering terdengar sebagai puisi ataupun sajak. Sebagian menganggapnya kuno sebagian menganggapnya unik seperti barang antik. Kilaunya mulai bias dimakan jaman, menguap bagai embun pagi oleh sorotan mentari, yang mulai lebih panas akibat globalisasi. Bulir-bulir seperti embun telah terbang melayang di angkasa lalu tertiup angin kencang terombang ambing. Namun masih adakah yang mengharapkan hujan turun agar bulir itu jatuh lagi dengan deras dan kembali menggantung pada daun, dahan, genting, pohon dan di segala macam objek kehidupan. Maka dengan segala keterbatasan saya berusaha untuk menjadi bagian dari bulir-bulir sajak yang tersisa, yang masih tergantung di salah satu daun walau hanya beberapa jam tapi akan selalu kembali di jam yang sma saat fajar. Berburu pagi di setiap langkah kaki saat akan pergi sekolah selalu saja kudapati baik itu dikaca, dirumput, di dinding, dan dimana saja tempat yang aku lewati.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • JAM 3 SORE
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Batas-Batas Eksistensialisme
  • Dear Angga✔
  • Aku Milikmu
  • KAIFA HALUKI??
  • Sekumpulan Sajak yang Berkisah
  • Like Father Like Son
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku

JANGAN LUPA FOLLOW DAN VOTE SETELAH MEMBACA‼️ 🌥️🌥️🌥️ Jam tiga sore. Hujan turun pelan-pelan. Langit kelabu, suara kelas yang riuh, dan satu orang yang selalu duduk di belakangnya. Berisik, nyeleneh, dan nyebelin. Tapi entah kenapa Naya tak pernah terganggu sedikit pun. Naya tidak tahu kapan tepatnya Aksa mulai masuk ke pikirannya. Mungkin sejak kertas origami berbentuk kodok itu muncul atau tulisan miring Aksa yang berkata "Ini nggak bisa menggonggong, tapi bisa lompat ke hatimu." Awalnya dia mengira Aksa hanya cowok absurd yang suka gambar bebek pakai helm di dinding toilet sekolah. Tapi lama-lama... langkah kakinya jadi yang paling ia kenali. Diam-diam jadi yang paling ia tunggu. Mereka bukan kisah cinta yang gegap gempita. Tidak ada janji manis. Tidak ada gombal yang bikin meleleh, hanya obrolan aneh yang bisa membuat rindu terus bertahan. Membuat perasaan tumbuh seperti hujan-pelan, tapi pasti meresap. Kisah mereka cuma tentang momen-momen kecil yang ternyata besar. Tentang sosok yang nggak sempurna, tapi justru bikin dunia seseorang terasa lebih hidup. Tentang pertemuan yang tak disengaja, kenangan yang tak bisa hilang, dan jarak yang kadang hadir bukan karena ruang, tapi karena waktu dan keberanian yang tertunda. *********** Selamat menelusuri jejak rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Selamat membaca-semoga kamu temukan dirimu di sela-sela kisah ini. Jangan lupa tinggalkan jejakmu-vote, komen, dan bagikan kisah ini agar rindu tak hanya menjadi milik kita ❤️ NOTE : DILARANG PLAGIAT‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines