Traped By Bigfoot

Traped By Bigfoot

  • WpView
    Reads 192
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 20, 2018
Alena tidak percaya cerita tentang Bigfoot yang berkeliaran di kawasan tempat tinggalnya. Penduduk sampai ketakutan untuk berkeliaran di waktu malam apalagi berdekatan hutan di pinggir jalan menuju ke Kota. Alena memang tinggal di bahagian pendalaman. Di mana hutan-hutannya masih tebal. Jauh sekali dari Kota. Baginya Bigfoot itu cuma cerita dongeng yang diceritakan orang tua sebelum tidur untuk menakutkan anak mereka yang susah tidur malam. Sehingga dia bertemu sendiri dengan Bigfoot. Alena di bawa ke hutan tebal dan tidak bisa lepas. Bagaimana kelanjutan cerita Alena? Bisa kah dia terlepas dari cengkaman Bigfoot yang kata Orang begitu menyeramkan...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • transmigrasi gadis pemalas[END]
  • Eclipse : tahta di balik bayangan (On Going)
  • FOUR ELEMENTAL GODS[REVISI]
  • CAN YOU READ THE NEW CHAPTER FOR ME?
  • Transmigrasi Amora L²
  • Misteri Hutan Terlarang
  • Too Far to Hold [COMPLETED]

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines