BRAGYRETTA

BRAGYRETTA

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 16, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Sebuah ukiran nama disebuah gelang bertuliskan BRAGYRETTA mengingatkan seorang anak laki laki dengan teman masa kecilnya dulu yang masih termenung dan mengingat ngingat bagian bagian kecil dimana dia dapat tertawa dengan seorang gadis kecil seusianya itu.Gadis kecil berambut brown menjuntai dengan tawa ceria membuatnya suka menjailinya. Bragy Fredella Alby dan Adsilla Claretta Jasmine dua sejoli yang sejak kecil selalu dijodoh jodohkan oleh orang tuanya. Mereka adalah dua makhluk yang mempunyai watak sangat berbanding terbalik Bragy yang cuek,dingin,angkuh,usil,hobby main game,basketball,selalu melanggar aturan dan Retta yang anggun dengan parasnya yang munngkil dan rambut ikal,selalu senang membaca buku,dan juga typical cewe yang takut untuk melanggar aturan,dan suka dengan organisasi seperti osis,paskibra,marching band. Keduanya terpisah sejak beranjak smp,waktu dan keadaan yang mempertemukan mereka kembali.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Why you Comeback
  • MATCA LATTE {COMPLATE}
  • KaleZa
  • THE BRANDAL GIRLS
  • Psychopath & Gadis polos (Completed)
  • KELABU (Werewolf Story) [END]
  • Aku Tau Itu
  • Ketos Vs Cegil
  • Satria Dirgantara [Complete]

"Kenapa kamu balik lagi? dan tadi kamu bilang apa? mau perjuangin aku? Udah nggak ada guna nya" ujar gadis itu dengan penuh penekanan kepada pemuda yang bernama lengkap Gemilang Pratama. "Kasih aku kesempatan sekali lagi Sa. Aku minta maaf atas semua hal yang terjadi dulu. Aku bakal jelasin semuanya...aku janji bakal buat kamu jauh lebih bahagia kali ini," Ujar Tama lirih dan penuh permohonan. Tangan Tama berusaha untuk memegang pergelangan tangan gadis yang ia panggil, 'Sa'. Namanya Dia Carissa, kerap kali dipanggil Sasa. Namun, tangan Tama justru ditepis oleh Sasa. Sasa menatap Tama dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. Kekecewaan, kebencian, kerinduan, kecemasan, bercampur aduk dalam sorot mata Sasa. "Ga ada satupun kesempatan yang pantas aku berikan lagi ke kamu. Aku sangat berharap kamu MATI", ujar Sasa dan berlalu meninggalkan Tama dengan tergesa-gesa. Tama hanya bisa menatap kepergian Sasa dengan terpaku, pemuda itu terpaku pada kata terakhir yang dilontarkan oleh Sasa. MATI

More details
WpActionLinkContent Guidelines