Kemerdekaan di Perbatasan

Kemerdekaan di Perbatasan

  • WpView
    Reads 1,493
  • WpVote
    Votes 191
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 22, 2016
Tidak ada yang bisa tidur pulas, semuanya selalu waspada dengan keadaan mereka. Belum pernah ada yang mendapat pendidikan yang baik, anak-anak hanya diajari membaca, menulis, dan berhitung. Mencari air bersih pun harus menempuh jarak sejauh 5 kilometer dan hanya dapat dtempuh dengan berjalan kaki. Tidak ada kendaraan yang berani melewat. Selama bertahun-tahun, kehidupan di daerah perbatasan tidak pernah berubah, jarang sekali ada waktu untuk masyarakat berkumpul. Sesekali kegiatan mereka diselingi oleh suara tembakkan. Meskipun sudah dinyatakan merdeka sejak satu dekade lalu, para penjajah belum pernah meninggalkan tempat itu. Hampir belum ada penduduk di daerah itu yang pernah merasakan kemerdekaan, membayangkannya saja tidak pernah sampai, karena selalu terganggu oleh suara-suara tembakkan. Hingga pada saat sang ketua di daerah itu mengumpulkan sebagian warga laki-laki. Sang ketua menginginkan para penduduk dapat memperingati hari kemerdekaan negaranya yang kesepuluh. Meskipun tidak ada yang tahu kapan hari kemerdekaan sebenarnya. Sang ketua menganggap bahwa hari kemerdekaan jatuh pada tujuh hari setelah dikumpulkannya para warga. Sehari setelah bermusyawarah, para warga laki-laki mulai mempersiapkan semuanya. Beberapa jam kemudian datang para tentara yang bertugas di perbatasan. Dari salah satu tentara, mereka baru mengetahui bahwa hari kemerdekaan sebenarnya jatuh pada esok harinya. Akhirnya dengan bantuan para tentara, mereka selesai mempersiapkan segala hal. Tidak ada yang memiliki bendera di daerah itu, sehingga para ibu-ibu menjahitnya sendiri. Tidak ada pasukan paduan suara di situ, sehingga beberapa tentara mengajari anak-anak di sana menyanyikan lagu kebangsaan. Semuanya melakukan upacara pengibaran bendera merah putih dengan khidmat. Meskipun hanya bendera merah putih yang baru kemarin dijahit, tiang dari bambu yang masih basah, dan padang rumput di dekat pemukiman warga. Hari itu, merupakan hari kemerdekaan sesungguhnya bagi penduduk disana.
All Rights Reserved
#17
nasionalisme
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Liontin Time (NominHyuck)
  • The Golden Age
  • Langit Tak Bertemu Bumi
  • Senja Termendung
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • BUMI
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • Terang Bulan
  • The Last Birthday With You

Haechan membuka mata. Bukan di kamarnya yang sederhana, tapi di sebuah ruangan hutan, dikelilingi pepohonan rindang yang sejuk. Napas lega keluar dari bibirnya. Ia berpindah dunia, tapi bukan ke tempat yang berbahaya. Ini kerajaan yang makmur, jauh dari bayangan perang dan kemiskinan yang pernah ia bayangkan. Syukur tak terhingga terucap dalam hati, ucapan syukur kepada Tuhan yang telah membawanya ke tempat yang aman. Namun, lega itu hanya sesaat. Kehidupan lurus dan tanpa rintangan yang selama ini ia jalani sirna. Di dunia baru ini, ia harus berhadapan dengan intrik istana, permainan kekuasaan, dan para penghuni kerajaan yang menyimpan rahasia dan ambisi masing-masing. Bisakah ia, Haechan yang polos dan lugu, bertahan di tengah pusaran kehidupan yang penuh liku ini? Akankah ia mampu menerima takdir barunya, takdir yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya? Keraguan mulai menggerogoti hatinya. Ia harus belajar beradaptasi, belajar berjuang, dan mungkin... belajar untuk bermanis muka. Dunia baru ini, seindah apapun kelihatannya, menawarkan tantangan yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Tantangan yang akan menguji kekuatan dan ketahanan batinnya hingga batas kemampuannya. Apakah ia akan mampu melewatinya? Hanya waktu yang akan menjawab. Petualangan baru Haechan baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines