
"Hah?? Maksudnya?? Aku gangerti seriusan. Kamu jangan bercanda disaat serius gini dong!! Galucu sumpah!!" Teriakan kaget yang membuat seluruh penghuni kampus menengok kearahnya, sekedar mengetahui apa yang membuat Nana teriak lebay. "Maaf, aku baru sadar kalau aku cuma nyaman sama kamu sebagai sahabat. Bukan sebagai pacar. Yang aku butuh malaikat tanpa sayap yang dapat melindungiku dari segala hal yang berbau negatif." Mendengar penjelasan lanjutan laki-laki itu membuatnya makin naik pitam. Bukan karena marah. Tapi karena kecewa. "Aku sadar kok aku lemah. Aku emang gapantes jadi pacar kamu. Kamu lebih pantas dapetin cewe yang kuat, lebih bertanggung jawab, bisa melindungi kamu, lebih intelektual, lebih, pintar, dan lebih segala-galanya dibandingkan aku yang manja." Sambil menahan tangisnya Nana berkata demikian. Lawan bicaranya yang diajak bicara itu malah geleng-geleng kepala. "Kamu gak lemah, juga gak manja," dibalasnya perkataan Nana dengan sederet kalimat yang membuatnya heran untuk kedua kalinya. "Tapi aku butuh seorang laki-laki yang dapat melindungiku, karena dia kuat jiwa dan raga." Lanjutnya. "HAH??!! KAMU GAY??!!" kegilaan klimaks yang menutup pembicaraan mereka siang itu.Tous Droits Réservés
1 chapitre