KUADART

KUADART

  • WpView
    Reads 543
  • WpVote
    Votes 85
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 17, 2017
"Setelah insiden itu, aku terus mencarinya di villa dekat danau. Kita bertemu dan memulai awal pertemanan dengan baik. Namun itu semua tak berlangsung lama, Ayah memintaku dan kakak untuk bersekolah di Eropa. Aku sempat menolak permintaan itu, tapi itu semua hanya sia-sia. Ayah sangat tegas kepadaku, bahkan tak mau mendengar sedikitpun pengungkapanku. Yang ada dipikiranya mungkin hanya bisnis, uang, dan kakak-anak emasnya itu, sungguh tidak adil!" "Aku menyelamatkannya ... dan pada akhirnya kita berteman, meski itu hanya sesaat, tapi aku senang telah mengenalnya. Sifatnya yang hampir mirip dengan sifatku, hobby yang sama, juga persamaan kelebihan yang lainnya. Namun tiba-tiba dia menghilang begitu saja (?) tak pernah mengunjungiku, berpamitan saja tidak ... apalagi untuk sekedar memberi kabar. Aku terus menantinya dan berharap dia akan kembali. Bermain bersama lagi, bercerita seputar sepak bola, dan impian kecil yang telah kita idamkan dulu bersama. Namun pada akhirnya aku menyerah, mungkin dia telah mendapatkan teman baru yang jauh lebih baik dariku. Tiba-tiba takdir menyeretku pada deretan masa hitam-putih." *slow update.
All Rights Reserved
#88
nothing
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Brothers
  • MsS 2 : Ini Aku [ COMPLETED ]
  • AMOUR (Mr. Pradipta)
  • fav boii [ON GOING]
  • Dear Heartbeat [COMPLETED]
  • Informed Consent
  • CACA (TAMAT)
  • aku atau dia? || Fenly Un1ty ||
  • I T ' S   M E
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines