Storona
  • WpView
    Reads 411
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 4, 2020
Sekarang... mari kita buka lembaran pertama untuk mulai membaca cerita ini. Cerita yang menggambarkan 3 sisi dari masing-masing kehidupan. Kalian akan bertemu dengan kisah dari ketiga pemeran, tentang pahitnya kehidupan dan perjuangan yang terasa sia-sia. Boki, gadis dengan penyakit jantungnya kebetulan mendapatkan beasiswa di sekolah yang dimana ketika harta dan tahta menjadi masalah dalam hidupnya. Gandhi, cowok pecinta segala hal yang berbau Korea. Di kehidupan nyatanya, mempunyai phobia ketika berdekatan dengan perempuan. Olive, salah satu sahabat Boki. Demi bertahan hidup dan sesuap nasi, ia rela menjadi simpanan laki-laki berhidung belang. Tentu saja, tidak ada yang tahu selain dirinya dan Tuhan. Bagaimana? Jika kalian membacanya, kalian akan mengerti apa artinya garis takdir.
All Rights Reserved
#366
phobia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Blue Trapped In BL Novel
  • REZZA
  • Suddenly Becomes Samara In The Novel
  • DIARY SI MANIS📒✅
  • DANADYAKSA
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • ✔️Become The Main Character's Sister : Transmigration Story
  • ARFANAZ (COMPLETED✓)
  • ALTHAZAIN

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines