[Marc Marquez Fanfiction] 38°

[Marc Marquez Fanfiction] 38°

  • WpView
    Reads 5,430
  • WpVote
    Votes 518
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 2, 2019
"Aku memang mencintaimu, namun bukan berarti kau bisa mengambil alih harga diriku."--Mirella Cardoso "Kau adalah istriku, kau milikku, dan apa pun yang kau lakukan harus atas kehendakku."--Marc Marquez Pada dasarnya, seorang wanita tercipta dari tulang rusuk yang harus dipeluk, dijaga, dilindungi, dan dicintai. Karena mereka bukan diwujudkan dari tulang kaki, yang harga dirinya bisa diinjak-injak sekehendak hati. Namun Mirella tak mendapatkan hak itu dari Marc, suaminya. Ia bukan hanya diinjak-injak, bahkan harga dirinya dikebiri. Tetapi cinta tetaplah begitu adanya, Mirella demikian. Penderitaannya berbanding lurus dengan cintanya. Hingga waktu terus merotasi detik, kekecewaannya terus merintik. Sampai ketika kuncupan pertahanannya dipertanyakan. Apakah ia masih mampu menghadapinya? Badai terus menantang, luka terus terhantam. NB: sorry for bad blurb, aku berharap cerita ini lumayan nge-feel. Kritik pedas dan saran membangun akan selalu kurindukan.
All Rights Reserved
#73
marcmarquez
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta Dan Lukanya
  • Losing You | #1 Twins Series
  • ERLANGGA (ON GOING)
  • Ainslleya - Ainsleya : [ Anne Of Green Gables ]
  • Ataxaria [ completed]
  • ALGRAVANO
  • Stay (Away)
  • Cloera Love Ending
  • Marchel And Zarra

"Genggam cinta ini dan hempaskan semua dendam itu, karena cinta tak mungkin tumbuh, jika rasa dendam yang tersisa masih begitu dalam." ° ° ° ° "Kamu sakit apa? Ngomong dong mas, cerita. Selama kita nikah kamu gak pernah cerita kehidupan kamu sedikitpun ke aku, kenapa sih? Aku ini istri kamu loh," ucap wanita paruh baya, yang kini sudah tak mampu lagi untuk menahan air mata karena terlalu khawatir dengan kondisi lelakinya "Tapi saya gak pernah menganggap itu. Dan saya akan cerita ditempat yang menurut saya aman, dirumah yang bila mana saya berada didalamnya akan terus merasa nyaman. Dan itu....." "Dan itu pastinya bukan aku," potong wanitanya, pada seorang yang sedari tadi memberi tatapan elang padanya Wanita yang selalu terlihat tegar dihadapan siapapun itu. Kini, runtuh. Saat mendengar perkataan yang baru saja lelakinya lontarkan, bahwasanya tidak mengganggap dirinya sebagai seorang istri. Lelaki yang selama ini selalu ia kasihi penuh, dengan akar cintanya yang setiap waktu tidak berhenti tumbuh, namun seperti itu balasan yang diberikan. Kini terlambat, berat untuk beranjak lebih jauh. Ia sudah terlalu dalam, karena baginya lelaki tersebut bukan hanya belahan raga maupun jiwanya. Tapi juga, jika dia harus kehilangan seluruh tetes darahnya demi lelaki itu, maka dia bisa memastikan tidak akan muncul rasa penyesalan nantinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines