Last Tears [ Completed ]

Last Tears [ Completed ]

  • WpView
    Membaca 1,714
  • WpVote
    Vote 164
  • WpPart
    Bab 31
WpMetadataReadLengkap Kam, Sep 3, 2020
(17+) Bagi Afsheen cinta hanyalah sebuah ilusi semata. Dia menyukai kesendirian, kesendirian lah membawanya pada titik kenyamanan. Dia tak percaya bahagianya mencinta atau dicinta, semua hanya angan dan bayangan saja, seolah cinta tak benar-benar ada di hidupnya. "Gua gak ngerti kenapa lo kayak gini Tan. Lo yang ciptain keadaan dimana gue yakin kalo lo serius. Harapan kita, kenangan kita semua tentang kita seolah sirna gitu aja. Gue harusnya gak masuk ke dalam scene cerita yang lo buat. Lo jahat Tristan." "Aku yakin kamu pasti ngerti suatu saat nanti." Tristan pun berjalan meninggalkan Afsheen yang masih berdiam diri. "Apa? Harusnya gue gak pernah kenal sama lo." teriak Afsheen Namun apa jadinya jika cinta datang dan merubah segalanya menjadi indah mengubah ilusi menjadi kenyataan. Meyakinkan Afsheen bahwa cinta benar-benar ada, tak pernah pergi dan menghilang lagi dari hidupnya. . . . . . .
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#322
hurt
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Vericha Aflyn ✔️
  • ALGARA [TERBIT]
  • RINDU DI PENGHUJUNG SENJA
  • Arsyilazka
  • Promise
  • "MY BOY MY ENEMY" (ON GOING)
  • ASYHILA(COMPLETED)
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • Stupid Cupid

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan